Zona Oranye di Bawah Langit Gelap

ESAI NARATIF

2/9/2026

Ilustrasi: Active Movement Indonesia

Siang itu perlahan runtuh menjadi sore ketika Sica akhirnya benar-benar berjalan di jalur pendakian. Ia bukan pendaki sejak kecil, membedakan pohon jati dengan pohon pisang saja kesulitan, bukan pula tipe perempuan yang tumbuh dengan kisah api unggun dan kompas. Sica adalah wanita sosialita kota—terbiasa dengan brunch cantik nan estetik, studio pilates berlantai kayu maple mengilap, functional training dengan playlist kurasi, dan jam olahraga yang selalu selesai sebelum kuku jari rusak. Lemari pakaiannya rapi, hidupnya terjadwal, tubuhnya terlatih dalam ruang yang steril dan wangi. Dan kini, semua itu terasa jauh.

Di pergelangan tangannya melingkar jam super canggih harga jutaan, simbol kedisiplinan modern yang selama ini menemaninya. Layarnya menyala penuh warna, mencolok di antara kaos outdoor yang masih terasa asing. Denyut jantungnya muncul jelas: 123… 139… 152. Dalam sport science, angka itu menandai peningkatan cardiac output—jantung memompa lebih keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen otot yang bekerja di medan menanjak. Bagi Sica, angka itu lebih dari teori: ia adalah pengakuan bahwa tubuhnya sedang dipaksa keluar dari ilusi nyaman.

Galih Purnomo Aji
Penulis

Nanda Dwi Yanto
Editor

Setiap langkah menanjak membuat warna di layar berubah. Hijau bergeser ke kuning, kuning menuju oranye. Seolah jam itu hidup, mengikuti ritme langkahnya, mengomentari dengan sinis setiap tarikan napasnya. Sica beberapa kali menengoknya, refleks sosialita yang terbiasa mengukur segalanya: progres, intensitas, capaian. Namun di sini, data itu tidak bisa disembunyikan di balik filter. Gunung memaksa kejujuran. Otot pahanya terbakar, tungkai lecet karena sepatu mahalnya, napasnya pendek, dan ia mulai memahami konsep specificity of training—bahwa tubuh beradaptasi secara spesifik terhadap tuntutan yang dialaminya. Pilates membentuk stabilitas, gym membangun kekuatan, tetapi tanjakan panjang ini meminta sesuatu yang lain: ketahanan yang berkelanjutan, kesabaran mekanis, dan mental yang tidak mudah panik.

Spock berjalan sedikit di depan. Tubuhnya bergerak tenang, langkahnya efisien. Dalam biomekanika, ia adalah contoh movement economy—minim gerak sia-sia, maksimal fungsi. Sica mengikutinya sambil diam-diam belajar. Sesekali Spock menoleh, memastikan jarak mereka tidak terputus. Tatapan singkat itu, di antara napas yang berat dan suara sepatu menginjak tanah, menjadi bentuk romantisme yang tak memerlukan kata. Bukan bunga, bukan pujian, tetapi kehadiran.

Senja turun. Cahaya menghilang perlahan, digantikan dingin yang merayap. Katanya si Guyton, buku yang aku baca saat kuliah 13 tahun lalu, Udara gunung memaksa tubuh melakukan thermoregulation, pembuluh darah menyempit, metabolisme meningkat. Jam di pergelangan tangan Sica kembali bergetar menunjukkan angka 158. Warna oranye pekat. Ia berhenti sejenak, menunduk, pura-pura membenahi kaos dan tali sepatu. Dengan suara tersenggal menanyakan berapa jam lagi sampai puncak? Dalam filsafat tubuh, manusia tidak “memiliki” tubuh; manusia adalah tubuhnya. Di momen itu, Sica tidak lagi menjadi perempuan sosialita yang sedang mencoba pengalaman baru. Ia hanyalah tubuh yang bernapas, berkeringat, dan bertahan.

Saat malam benar-benar turun, lampu kepala menyalakan lingkaran cahaya kecil di tengah gelap. Dunia menyempit menjadi beberapa meter di depan kaki. Setiap langkah adalah keputusan. Dalam psikologi olahraga, ini adalah wilayah perceived exertion—saat pikiran mulai bernegosiasi dengan tubuh. Sica menengok jamnya lagi. Angka-angka itu seperti mantra modern. Ia tidak tahu apakah jam itu memberinya keberanian atau justru memperlihatkan batasnya, tetapi ia tetap melangkah.

Tiba di area camp, angin datang tanpa basa-basi. Tenda yang baru berdiri langsung bergoyang, kainnya berderu keras seperti ombak kecil. Sica masuk ke dalam, tidur meringkuk, sesekali duduk karena lantai matras yang jauh berbeda dengan rasa king koil di rumahnya dengan lutut ditekuk, jantungnya masih cepat. Perlahan, denyut itu turun. Jamnya menampilkan warna biru kehijauan—heart rate recovery, indikator bahwa tubuhnya mampu pulih. Secara ilmiah, itu kabar baik. Secara emosional, itu kelegaan.

Angin kembali menghantam tenda. Spock duduk di sampingnya, bahu mereka bersentuhan. Tidak banyak kata. Hanya suara angin, napas yang mulai teratur, dan kehadiran yang terasa utuh. Dalam filsafat eksistensial, makna sering muncul bukan dari kenyamanan, melainkan dari kebersamaan di tengah ketidakpastian. Di saat tenda bergoyang dan dingin menyusup, Sica merasakan bentuk romantisme yang belum pernah ia kenal: rasa aman yang lahir bukan karena kontrol, tetapi karena berbagi risiko.

Semangkuk mie kuah panas kemudian berpindah ke tangannya, hasil karya team huru hara yang selelu ready dalam cuaca ekstim sekalipun. Uapnya naik, menghangatkan wajah. Ia menyeruput perlahan. Dalam ilmu olahraga, karbohidrat sederhana membantu mengisi ulang glikogen, cairan panas membantu hidrasi dan kenyamanan. Namun bagi Sica, mie itu nikmat karena konteksnya. Kelelahan memberi makna pada rasa. Tanpa tanjakan, tanpa angin, tanpa jantung yang sempat berlari liar, mie ini mungkin biasa saja.

Angin kembali berderu, lebih kencang. Tenda bergoyang. Spock meraih tangan Sica, menggenggamnya sebentar, bukan untuk melindungi dari angin, tetapi seolah berkata: kita di sini bersama. Sica tersenyum dalam gelap. Jam mahal di pergelangan tangannya merekam denyut jantung, grafik, dan zona latihan. Tetapi gunung merekam sesuatu yang lain: keberanian seorang perempuan sosialita yang berani membiarkan dirinya tidak sempurna, dan romansa yang lahir di antara napas berat, dingin, dan mie kuah yang sederhana.

Di malam itu, Sica tahu satu hal: tidak semua hal penting bisa diukur. Namun beberapa memang harus dialami.