SOAL MELATIH, SOAL MENDIDIK, DAN HAL YANG TAK PERNAH SELESAI KITA BAHAS

Catatan "kurang" Kritis Hari Pendidikan Nasional

ESAI NARATIF

5/2/2026

Ilustrasi: Active Movement Indonesia

Beberapa hari terakhir, saya lebih sering berada di warung kopi ketimbang di ruangan kadep yang "nyaman". Bukan karena menghindari pekerjaan, justru di sanalah pekerjaan itu menemukan bentuknya yang paling jujur. Dari obrolan dengan pelatih (yang masih juga menjadi mahasiswa), guru PJOK, mahasiswa bimbingan skripsi, hingga sesama dosen, satu hal pertanyaan berulang dengan nada yang hampir sama saat membahas pekerjaan kita sendiri: "kita ini melatih, tapi belum tentu mendidik." kebetulan sekali Departemen kami nomenklatur-nya masih ada frasa "pendidikan"

"Kebetulan" saat ini sebagai Kepala Departemen Pendidikan Kepelatihan Olahraga di Fakultas Ilmu Keolahragaan UM Malang, sekaligus peneliti yang sehari-hari berurusan dengan data, kurikulum, dan kebijakan, saya justru menemukan refleksi paling tajam bukan dari ruang akademik, melainkan dari percakapan-percakapan sederhana itu. Dari pinggir lapangan, dari bangku kayu, dari kopi yang dibiarkan dingin karena diskusi terlalu panjang. Saya benar-benar mengkritik diri saya sendiri saat ini. Entah apa istilahnya, refleksi atau muhasabah yang lebih tepat. walaupun jika ada yang merasa tersinggung itu bukan kebetulan, tapi memang tujuan samping saya adalah itu.

N.R. Fadhli
Penulis

Galih Purnomo Aji
Editor

Di situlah saya melihat wajah pendidikan kita yang sesungguhnya (tidak selalu ideal), atau mungkin bisa disebut sering kali kontradiktif, dan kadang tanpa kita sadari, menjauh dari tujuan awalnya.

Setiap Hari Pendidikan Nasional, kita semua—terutama pembina upacara—kembali mengutip Ki Hadjar Dewantara. Kita mengulang gagasan tentang menuntun, tentang memerdekakan, tentang pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Tetapi di lapangan olahraga—tempat saya banyak menghabiskan waktu—pertanyaan itu terasa jauh lebih konkret: apakah pelatih hari ini benar-benar sedang menuntun, atau sekadar mengarahkan?

Dari pengalaman mengelola beberapa klub olahraga, saya melihat langsung bagaimana logika prestasi sering kali mengambil alih logika pendidikan. Program latihan disusun ketat, target ditentukan jelas, evaluasi dilakukan secara rutin. Semua tampak sistematis. Namun, ketika ditanya lebih dalam—apa yang sedang dibentuk dari seorang atlet—jawabannya sering berhenti pada angka: waktu tempuh, skor, atau peringkat.

Manusia di balik angka itu menjadi blur.

Di titik ini, kita perlu jujur untuk mengakui: sebagian besar sistem kepelatihan kita masih bekerja dalam cara pikir produksi. Medali menjadi orientasi utama, sementara proses pendidikan diposisikan sebagai jalan, bukan tujuan. Pelatih kemudian terjebak dalam peran teknisi—mengoptimalkan performa, mengoreksi gerak, mengejar hasil (ya, karena mereka dibayar untuk tujuan itu).

Padahal, olahraga bukan sekadar soal performa. "Menurut keyakinan saya" olahraga adalah ruang di mana manusia belajar tentang batas dirinya, tentang disiplin, tentang kegagalan, dan tentang makna menang itu sendiri.

Namun, semua itu hanya mungkin terjadi jika pelatih hadir sebagai pendidik.

Masalahnya, pendidikan kepelatihan kita belum sungguh-sungguh mempersiapkan peran itu. Kurikulum masih menumpuk pada teknik dan taktik. Pedagogi hadir, ada mata kuliahnya, tetapi tidak menjadi pusat. Kita menghasilkan lulusan yang tahu cara melatih, tetapi belum tentu memahami siapa yang dilatihnya.

Dalam banyak diskusi nonformal yang saya ikuti—di kampus maupun di warung kopi—para pelatih sering berbicara tentang “feeling”, tentang pengalaman, tentang intuisi. Itu penting, tetapi tidak cukup. Ketika pengalaman tidak dipertemukan dengan refleksi ilmiah, maka yang terjadi adalah pengulangan, bukan perkembangan.

Di sisi lain, penelitian yang kami lakukan di kampus sering kali berhenti di laporan dan jurnal—tidak lupa fleksing di medsos, publikasinya di Scopus. Ia tidak selalu menemukan jalan kembali ke lapangan. Di sinilah jarak itu terasa nyata: kampus berpikir, lapangan bergerak, tetapi keduanya tidak selalu berdialog.

Kita sedang hidup dalam dua dunia yang berjalan sendiri-sendiri.

Dalam konteks ini, pemikiran Paulo Freire menjadi relevan. Saya terngiang terus tentang Freire karena Pak Rektor UM selalu mengutip dia dalam hampir setiap pidatonya. Freire mengingatkan bahwa pendidikan yang tidak dialogis akan berubah menjadi praktik satu arah—mengisi tanpa membebaskan. Dalam kepelatihan, ini tampak jelas: pelatih memberi instruksi, atlet mengikuti. Tidak ada ruang untuk memahami, apalagi untuk bertumbuh secara sadar.

Olahraga kemudian kehilangan dimensi pendidikannya. Ia menjadi ruang disiplin yang kaku, bahkan dalam beberapa kasus, menekan.

Yang lebih problematis, semua ini sering dibenarkan oleh narasi besar tentang prestasi. Kita merayakan kemenangan, tetapi jarang menelusuri prosesnya. Kita bangga pada hasil, tetapi tidak cukup kritis pada cara.

Apakah kita masih sedang mendidik? Atau hanya sedang menghasilkan?

Sebagai orang yang "mengaku" akademisi sekaligus "mengaku" praktisi, saya melihat persoalan ini bukan sekadar teknis, melainkan filosofis. Kita telah menggeser makna pendidikan dari proses menjadi manusia menjadi proses mencapai target.

Padahal, jika kita kembali pada akar pemikiran Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan – bukan kontrol. Ia memberi arah tanpa merampas kebebasan. Ia membentuk tanpa memaksakan.

Dalam kepelatihan olahraga, prinsip ini seharusnya menjadi dasar. Pelatih bukan pengendali, melainkan penuntun. Atlet bukan objek latihan, melainkan subjek yang sedang tumbuh.

Untuk sampai ke sana, kita tidak cukup dengan memperbaiki metode. Kita harus berani mengubah cara pandang. Kurikulum perlu direkonstruksi dengan menempatkan pedagogi sebagai inti. Riset harus diarahkan pada kebutuhan nyata di lapangan. Teknologi perlu digunakan untuk memahami, bukan sekadar mengukur. Dan yang tidak kalah penting, kampus dan lapangan harus kembali dipertemukan dalam satu ekosistem yang hidup. Walaupun untuk sekadar menarasikan hal ini, pasti resistensinya cukup tinggi.

Namun, semua itu hanya mungkin terjadi jika kita berani mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar—bahkan mungkin tidak nyaman: untuk apa kita mendidik pelatih (lebih tepat calon pelatih)?

Jika jawabannya hanya untuk menghasilkan juara, maka kita sedang mempersempit pendidikan. Tetapi jika jawabannya adalah untuk membentuk manusia yang utuh—yang kuat secara fisik, matang secara mental, dan sadar secara nilai—maka olahraga menjadi salah satu ruang pendidikan paling strategis yang kita miliki. Mendidik dengan "meminjam" olahraga sebagai medium perantaranya.

Dari bangku-bangku reor sederhana tempat saya sering berdiskusi, saya belajar bahwa pendidikan tidak selalu lahir dari ruang formal. Ia hidup dalam percakapan, dalam refleksi, dalam keberanian untuk mengkritik praktik yang kita jalani sendiri.

Mungkin, itulah yang seharusnya kita bawa dalam Hari Pendidikan Nasional: bukan sekadar perayaan, tetapi kegelisahan.

Sebab pada akhirnya, masalah terbesar pendidikan kita bukan pada apa yang belum kita miliki, melainkan pada apa yang selama ini kita anggap sudah benar.

Dan selama kita masih percaya bahwa pendidikan adalah tentang hasil semata, kita akan terus memproduksi prestasi tanpa makna.

Tetapi jika kita mulai melihat pendidikan sebagai proses menjadi manusia, maka dari lapangan-lapangan olahraga—dari latihan yang sederhana, dari pelatih yang mau belajar, dari atlet yang diberi ruang untuk tumbuh—kita bisa membangun sesuatu yang lebih besar.

Bukan hanya juara.

Tetapi manusia.