Siapa yang Dihisab? Prestasi Seret, Obesitas Meroket

OPINI

N.R. Fadhli

12/1/20253 min read

Bayangkan suatu pagi di singgasana awan (ya, semacam istana megah yang diisi para malaikat) sedang berlangsung “rapat hisab global”: rapat untuk menimbang prestasi dan kesehatan generasi manusia. Di ruangan itu, pintu dibuka lebar, dan muncul tumpukan dokumen tebal berlabel: “Prestasi Olahraga Indonesia 2000–2025” dan “Status Gizi & Obesitas Anak Indonesia 1990–2025”.

Salah satu malaikat, dengan nada agak serak (mungkin karena saking seringnya memperhatikan data dunia), bertanya: “Bro, ini nanti siapa dulu yang dihisab? Atlet kita? Pelatih? Pemerintah? Atau bocil yang lebih hafal cheat gim daripada cara lompat tali?”

Sebab faktanya, sambil kita mengandalkan harapan medali — realitas di lapangan kadang masih membuat kita seperti memakai sepatu usang di lintasan lari dunia. Infrastruktur olahraga belum merata, pembinaan usia dini setengah hati, budaya hidup aktif kalah dari budaya rebahan plus kuota data.

Di saat itu, dokumen tentang gizi pun dibuka. Terkejut, kaget: data dari https://www.kemenkopmk.go.id/ yang dibawa salah satu malaikat menunjukkan Obesitas anak usia 5-19 tahun meningkat 10 kali lipat dalam 4 dekade di Indonesia yaitu tahun 1975 ke tahun 2016. Berdasarkan data SSGI 2022, Obesitas pada anak usia 5-12 yaitu 10,8% gemuk dan 9,2% obesitas, artinya 1 dari 5 anak usia 5-12 tahun gemuk atau obesitas karena kurang aktifitas fisik: 64,4%. Terdapat 16 % anak usia 13-15 tahun gemuk dan obesitas sementara pada usia 16-18 tahun: 13,5% karena kurang aktifitas fisik 49,6%.

Kalau di surga pakai “BMI surga”, mungkin mereka sudah longgar memakai celana — tapi ini di dunia nyata, di mana timbul risiko nyata. Anak-anak obesitas berpeluang tinggi terkena penyakit — seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular — bahkan risiko itu tak cuma sebatas lelucon. Ini sama dengan apa yang disampaiakan Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono yang dikutip dari laman https://www.kemkes.go.id/ dengan cara lantang beliau menyebutkan bahwa pentingnya upaya pencegahan obesitas dan diabetes sebagai langkah strategis untuk menekan beban penyakit tidak menular (PTM) serta pembiayaan kesehatan nasional.
Jika generasi muda kita lebih sering membuka makanan instan dan layar gadget daripada membuka pintu lapangan olahraga … ya, bagaimana kita mau berharap melahirkan juara dunia, bukan “juara sofa”?

Sementara itu, di balik gemerlap harapan medali, angka obesitas naik, dan masalah gizi tidak kunjung usai — bahkan terjadi “double burden”: sebagian wilayah masih bergulat dengan stunting; lainnya sudah berhadapan dengan obesitas. Surga rapat hisab pun terhenyak. Malaikat lainnya mengerutkan alis: “Ini dramanya—lomba makan gorengan dan scroll timeline bisa lebih populer daripada lari, lompat, atau oper bola.”

Jadi, siapa yang akan dihisab? Mungkin jawabannya: kita semua. yang pertama tentunya SAYA SENDIRI baik sebagai orang tua, pemilik klub olahraga dan dosen yang mengajar, meneliti serta pengabdian tetapi tidak tepat sasaran (biar para pembaca puas) hahahaha..

berikutnya tentu donk pemerintah yang kadang hanya sibuk mengejar target medali tanpa membenahi fondasi pembinaan, lembaga olahraga yang malas menggali akar masalah seperti gizi, pola asuh, dan akses lapangan, orangtua yang masih bangga menyebut anaknya “gendut lucu” seolah obesitas adalah prestasi genetika, sekolah yang lebih serius mengejar raport penuh daripada raport kebugaran, masyarakat yang lebih bangga begadang nonton Liga Champions daripada gowes bareng di pagi Sabtu, hingga para dosen olahraga yang berkampanye tentang kebugaran melalui publikasi internasional ber-Scopus Q1—yang saking ilmiahnya, masyarakat luas bahkan tidak pernah tahu judulnya, apalagi membaca isinya. Ironinya, teriakan mereka tentang pentingnya aktivitas fisik justru menggema di jurnal-jurnal berbayar mahal, bukan di lapangan kosong tempat anak-anak sebenarnya membutuhkan inspirasi. Maka lengkaplah rantai persoalan: dari kebijakan hingga akademisi, dari keluarga hingga budaya, semuanya kompak menyumbang catatan panjang yang pada akhirnya menunggu giliran di meja hisab.

Kalau kita ingin prestasi meningkat, generasi atlet tak melulu berbadan gemuk dan pendek napas saat sprint, kita harus memulai dari akar: gizi sehat, pola hidup aktif, akses ruang olahraga, dan menumbuhkan — ya — budaya berjalan kaki, lompat tali, bermain bola, bukan scroll layar sambil ngemil.

Karena hisab terbesar tidak di panggung podium, tapi di ruang tamu, di atas timbangan, dan di bawah napas berat bocah yang memimpikan masa depan — bukan perut buncit dan nyeri lutut ketika dewasa.

Kalau kita tak segera berbenah, maka medali hanyalah angan; dan generasi mendatang? Bisa jadi lebih lihai menggulir layar ketimbang menggulir bola. Dan di hari hisab, mungkin surga akan bertanya kepada kita: “Mana generasi sehat dan kuat yang kalian klaim jaga?”