
Selesai Bukan Segalanya: Catatan Warung Kopi tentang Riset dan Makna
ESAI NARATIF
N.R. Fadhli
4/22/2026
Ilustrasi: Active Movement Indonesia
Di sebuah warung kopi yang lebih sering melahirkan ide ketimbang proposal hibah, saya duduk melingkar bersama beberapa kawan: kolega dosen (yang suka ngopi), doktor baru, calon doktor, beberapa mahasiswa magister. Obrolan kami mengalir dari topik serius ke yang lebih serius lagi: “riset”. Kebetulan tim kami baru menerima berita bahwa beberapa judul penelitian lolos untuk didanai. Namun, sebelum semua itu, ada satu konteks kecil yang membuat diskusi ini terasa lebih cair.
Kebetulan, beberapa hari sebelumnya saya baru saja membeli sebuah buku tebal, judulnya cukup bikin merinding: Filsafat Sains, Intelektualisme, dan Riset Untuk Perubahan karya Herry Purnomo, profesor dari IPB. Bukan pembelian yang direncanakan. Awalnya saya datang ke mall dengan niat sederhana: membeli sepatu Adidas untuk naik gunung. Namun, seperti banyak rencana dalam hidup—dan mungkin juga dalam riset—yang terjadi justru belokan tak terduga. Sepatu tidak jadi terbeli, tetapi buku itu pulang bersama saya.
N.R. Fadhli
Penulis
Galih Purnomo Aji
Editor




Dan mungkin, justru dari sanalah arah obrolan siang itu ditentukan.
Di tengah diskusi, seorang teman saya menceritakan percakapannya dengan temannya yang lain. Lalu, seperti petir kecil yang menyambar santai, muncul kalimat itu: “Riset yang baik adalah riset yang selesai.”
Kami tertawa. Bukan karena itu lelucon, tapi karena ia terasa terlalu dekat dengan kenyataan untuk dibantah. Target luaran riset tim kami sangat membagongkan, di luar prediksi BMKG.
Di Indonesia, riset sering hidup di antara dua kutub: “idealisme akademik dan realitas administratif”. Di satu sisi, kita diajarkan bahwa riset harus ketat secara metodologis, relevan secara teoritis, dan berkontribusi pada ilmu pengetahuan. Di sisi lain, kita dihadapkan pada tenggat laporan, target publikasi, dan berbagai indikator kinerja yang tidak selalu memberi ruang bagi proses berpikir mendalam. Maka lahirlah kompromi sunyi: yang penting selesai dulu.
Namun, kalimat itu—meskipun datang dari “teman dari temannya saya”—sebenarnya bukan sekadar pernyataan pragmatis. Ia adalah cerminan dari sebuah ekosistem. Banyak penelitian tidak selesai bukan karena kurangnya niat atau kapasitas peneliti, tetapi karena sistem yang belum sepenuhnya mendukung. Dana yang terlambat cair, birokrasi yang panjang, akses jurnal yang terbatas, hingga beban kerja akademik yang tinggi menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan. Dalam kondisi seperti itu, menyelesaikan riset saja sudah menjadi capaian tersendiri.
Tetapi jika kita berhenti pada logika itu, kita sedang menurunkan standar tanpa sadar.
Selesai memang penting. Riset yang tidak selesai tidak akan pernah dibaca, tidak akan pernah dikutip, dan tidak akan pernah berdampak. Ia hanya menjadi arsip digital yang diam. Namun menjadikan “selesai” sebagai ukuran utama kualitas adalah simplifikasi yang berbahaya. Ia menggeser orientasi dari makna ke sekadar output. Seolah-olah penelitian cukup dinilai dari keberadaannya, bukan dari kontribusinya.
Di sinilah pentingnya membedakan antara riset yang selesai dan riset yang bermakna.
Riset yang bermakna adalah riset yang hidup. Ia dibaca, dipahami, diuji, dikritik, dan—yang paling penting—digunakan. Dalam dunia akademik, salah satu indikator makna adalah dampak ilmiah, yang sering diukur melalui sitasi. Walaupun tidak sempurna, sitasi menunjukkan bahwa sebuah penelitian menjadi bagian dari percakapan ilmiah yang lebih luas. Sebuah tulisan Johan Bollen berjudul “A principal component analysis of 39 scientific impact measures” menjelaskan bagaimana struktur sitasi mencerminkan dinamika pengaruh dalam ilmu pengetahuan, memperlihatkan bahwa hanya sebagian kecil riset yang benar-benar menjadi rujukan luas.
Jika kita menengok bidang olahraga, gambaran ini menjadi semakin konkret. Kita bahas olahraga karena kami semua adalah “insan olahraga”. Secara kuantitatif, produksi riset meningkat sangat pesat. Analisis bibliometrik menunjukkan bahwa dalam satu kajian saja terdapat 1.133 artikel tentang pendidikan olahraga anak dalam periode 2013–2023, mencerminkan pertumbuhan signifikan dalam perhatian akademik terhadap bidang ini (Apriadi et al., 2024).
Dalam konteks yang lebih spesifik, penelitian terkait aktivitas fisik anak dari database Scopus mencatat 410 artikel dalam rentang 2009–2024, menunjukkan bahwa bidang olahraga bukan hanya berkembang, tetapi juga menjadi salah satu area penelitian yang produktif secara global) (Arifin & Hanief, 2024).
Namun, angka-angka ini justru memunculkan pertanyaan penting: apakah semua riset tersebut berdampak?
Di sinilah kita melihat paradoks klasik dunia akademik. Produksi meningkat, tetapi dampak tidak selalu sebanding. Tidak semua penelitian menjadi rujukan. Tidak semua temuan diterapkan. Bahkan dalam sport science, terdapat diskusi kritis mengenai isu reproduktifitas, kualitas desain penelitian, hingga interpretasi statistik yang sering kali belum konsisten, katanya wikipedia sih seperti itu.
Artinya, tidak semua riset yang selesai benar-benar berfungsi dalam ekosistem ilmu pengetahuan.
Padahal, jika dilakukan dengan kuat dan relevan, riset olahraga memiliki potensi dampak yang sangat nyata. Sebuah studi tentang permainan berbasis aktivitas fisik menunjukkan bahwa intervensi sederhana mampu meningkatkan rata-rata 1.473 langkah per hari (lebih dari 25%), bahkan berkontribusi pada miliaran langkah tambahan dalam skala populasi (Althoff et al., 2016).
Ini adalah contoh bagaimana riset tidak hanya berhenti di publikasi, tetapi benar-benar mengubah perilaku manusia. Dari sekadar data menjadi gerakan.
Lebih jauh lagi, ilmu keolahragaan memiliki karakter unik karena bersifat multidisipliner dan aplikatif; ia tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga menyentuh langsung performa, kesehatan, dan kualitas hidup manusia. Dalam literatur internasional, bidang ini secara konsisten dipahami sebagai integrasi berbagai disiplin seperti fisiologi, biomekanika, psikologi olahraga, serta nutrisi untuk memahami dan meningkatkan fungsi tubuh manusia dalam konteks aktivitas fisik. European College of Sport Science menegaskan bahwa sport science menghubungkan ilmu biomedis, sosial, dan perilaku dalam satu kerangka yang utuh, sementara publikasi dalam Journal of Sports Sciences menunjukkan bahwa pendekatan interdisipliner ini digunakan untuk meningkatkan performa atlet sekaligus mendukung kesehatan masyarakat. Dalam perspektif yang lebih luas, World Health Organization juga menekankan bahwa aktivitas fisik—sebagai objek utama kajian ilmu keolahragaan—memiliki peran signifikan dalam pencegahan penyakit tidak menular dan peningkatan kualitas hidup global, dan hal ini diperkuat oleh panduan berbasis bukti dari American College of Sports Medicine melalui ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription yang mengintegrasikan aspek fisiologis, klinis, dan praktik kebugaran dalam intervensi kesehatan.
Dengan kata lain, bidang ini sejak awal tidak dirancang untuk berhenti di jurnal, tetapi untuk bergerak ke lapangan.
Kembali ke warung kopi, kalimat awal tadi mulai terasa kurang lengkap.
Riset yang selesai memang penting—ia adalah syarat minimum agar pengetahuan bisa dibagikan. Namun dalam lanskap ilmiah yang semakin padat, selesai bukan lagi pembeda. Ia hanya tiket masuk.
Yang membedakan adalah makna.
Riset yang bermakna memiliki beberapa ciri kuat: ia berangkat dari pertanyaan yang relevan, menggunakan metode yang tepat, terbuka untuk diuji ulang, dan memberi kontribusi nyata—baik dalam bentuk pemahaman baru, perbaikan praktik, maupun perubahan kebijakan.
Dalam konteks akademik Indonesia, refleksi ini menjadi semakin penting. Ketika publikasi dijadikan target utama, ada kecenderungan riset diarahkan untuk “cukup layak terbit”, bukan “cukup kuat untuk bertahan”. Akibatnya, kita mungkin berhasil meningkatkan jumlah publikasi, tetapi belum tentu meningkatkan kualitas pengetahuan.
Ini bukan kritik terhadap individu, melainkan ajakan untuk melihat sistem secara lebih jernih.
Ke depan, ada beberapa arah yang bisa dipertimbangkan. Pertama, menggeser orientasi dari “cepat selesai” menjadi “tepat selesai”. Kedua, memperkuat kolaborasi lintas disiplin. Ketiga, membangun ekosistem yang lebih mendukung—baik dari sisi akses literatur, pelatihan metodologi, maupun penyederhanaan birokrasi. Dan mungkin yang paling mendasar: menumbuhkan kejujuran akademik. Keberanian untuk mengatakan bahwa sebuah riset belum cukup kuat, meskipun sudah selesai, adalah bagian dari integritas ilmiah.
Diskusi di warung kopi itu akhirnya berakhir tanpa kesimpulan yang benar-benar final, sama persis seperti riset. Namun, justru di situlah letak nilainya. Ia tidak berhenti pada slogan, tetapi membuka ruang refleksi.
Karena pada akhirnya, dunia akademik tidak kekurangan riset yang selesai. Yang masih terus dicari adalah riset yang bermakna—yang tidak hanya hadir, tetapi bertahan, digunakan, dan memberi arah.
Dan lebih dari itu, ada satu hal yang sering luput disadari: sesungguhnya riset tidak pernah benar-benar selesai.
Setiap simpulan selalu melahirkan pertanyaan baru. Setiap temuan membuka ruang ketidakpastian berikutnya. Bahkan penelitian yang paling komprehensif sekalipun tetap menjadi bagian dari alur panjang pengetahuan yang akan dilanjutkan—oleh penelitinya sendiri atau oleh orang lain yang datang dengan perspektif baru.
Dalam pengertian itu, “selesai” hanyalah penanda administratif, bukan akhir intelektual.
Ia adalah titik jeda, bukan titik henti.
Maka mungkin kalimat itu bisa kita perbarui, bukan untuk menolak, tetapi untuk melengkapinya:
Riset yang baik adalah riset yang selesai. Namun, riset yang penting adalah riset yang, setelah selesai, tetap hidup—dan terus dilanjutkan.
OUR ADDRESS
Perum Pondok Bestari Indah, Blk. B1 No.49B, Dusun Klandungan, Landungsari, Kec. Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65151
CONTACT US
WORKING HOURS
Monday - Friday
9:00 - 18:00
