
Ruang Olahraga Outdoor yang Ramah Lingkungan di Kota Malang: Sesuatu yang Ada Tapi Tidak Ada
OPINI
Ronal Ridhoi
12/8/2025


Ilustrasi: Galih Purnomo Aji
Kurang lebih lima belas tahun yang lalu saya berlabuh di Kota Malang untuk mengenyam pendidikan sarjana. Dengan berbekal bahan bacaan yang absurd, diri ini berani untuk mengambil jurusan yang tidak populer, yaitu Ilmu Sejarah. Sebuah jurusan yang saat itu minim sekali peminatnya tapi gampang masuknya. Alhasil sekarang saya jadi orang yang ikut cara pandang spion dalam melihat carut marut fenomena kekinian.
Saya di sini tidak akan menceritakan lika-liku perkuliahan yang susah karena harus banyak baca. Lalu banyak tugas berbasis proyek dan case method, tapi dosen jarang hadir di kelas. Itu keluhan yang sering saya dengarkan dari obrolan mahasiswa di kantin kampus. Namun saya coba untuk mengingat-ingat, sedikit bernostalgia akan nyaman dan sejuknya Kota Malang di masa lalu yang belum jauh itu.
Ronal Ridhoi
Penulis
Galih Purnomo Aji
Editor


Delapan tahun sudah saya menetap di kota ini. Bukan karena saya mencintai tempat ini, namun lebih karena urusan perut dan status pengajar yang membuat diri ini terdampar. Dalam kurun waktu tersebut saya merasakan ada yang aneh di kota ini.
Saya masih ingat betul, sekitar tahun 2010/2011 saya sering menghabiskan leisure time dengan bersepeda atau sekedar lari pagi menyusuri jalan-jalan yang indah. Ditemani kabut tipis, langit mendung dan dinginnya pagi. Itulah menambah kesyahduan dan keintiman seorang perantau yang sedang berolahraga. Keringat ini serasa malu-malu untuk keluar karena terbentur udara sejuk “kota dingin” ini.
Kota yang Beralih Rupa: Sumuk, Macet, dan Anomali
Fenomena Malang sebagai kota dingin akhir-akhir ini mungkin terasa hambar untuk diucapkan. Rasa dingin itu hanya dapat dinikmati ketika bulan Juli-Agustus saja. Mayoritas rekan-rekan kerja maupun mahasiswa yang asli kelahiran Malang sebelum tahun 2000-an menandainya dengan “musim maba”. Sebuah tanda ketika mahasiswa baru dari luar kota menginjakkan kakinya di bumi Arema. Seolah dinginnya Malang hanya untuk menyambut kedatangan mereka sebagai tamu yang tak diundang itu.
Memang suhu terendahnya bisa mencapai 16 derajat celcius, tapi pada dini hari. Siang harinya tetap panas, antara 28-30 derajat celcius, bahkan bisa lebih. Apalagi setelah bulan Agustus, kota ini hawanya sangat kering dengan cuaca yang juga tak menentu. Pagi sampai siang panas, setelah itu tiba-tiba hujan deras hingga larut malam. Gen-Z pun menjulukinya dengan “kota sumuk” (gerah, dalam Bahasa Indonesia). Apa ini yang dinamakan perubahan iklim?
Ditambah lagi banyaknya pendatang juga berakibat pada kemacetan. Dulu jika macet di jalan besar kita bisa berpetualang ke jalan-jalan tikus. Sekarang jalan tikus itu rata-rata juga macet. Pas weekend kota ini dipenuhi kendaraan plat L, W, S, B, KT, dsb. yang sedang menikmati plesiran. Jalan dua jalur bisa jadi empat jalur karena ketidaksabaran mereka akibat antrian panjang. Tak heran warga lokal menyebut Malang “kota macet”.
Masuk tiga bulan terakhir di penghujung tahun, di Malang sering muncul penampakan-penampakan aneh. Mulai ada waterpark di tengah kota, pohon pisang di tengah jalan raya, muncul sungai baru di pinggir jalan, bahkan gorong-gorong juga sempat menjadi lubang buaya yang bisa merenggut nyawa. Semua itu aneh, tapi nyata. Apakah ini yang disebut anomali?
Olahraga Outdoor: Antara Menyehatkan dan Terpapar Polusi Kendaraan
Lalu apa hubungan suhu, cuaca dan banyaknya kendaraan dengan olahraga outdoor? mari kita bahas.
Awal tahun 2025, lembaga survei Populix mempublikasikan data tentang tren olahraga di Indonesia. Dari 1.030 responden, 968-nya atau sekitar 94% mengaku gemar berolahraga. Salah satu olahraga yang digemari adalah lari. Itu karena olahraga lari tidak membutuhkan ruang khusus, bisa dilakukan di luar ruangan dan tempatnya bisa fleksibel.
Fenomena itu juga terjadi di Malang. Akhir-akhir ini saya amati banyak yang berolahraga lari di pagi hari. Ada juga yang lari di malam hari, saya juga heran. Mungkin mereka pelari kalcer yang berseliweran di media sosial. Atau bisa jadi karena Malang sudah sumuk. Mereka lari-lari di pinggir jalan raya maupun jalan-jalan tikus. Sebuah fenomena yang positif dan patut diacungi jempol karena sangat berdampak pada kesehatan setiap individu.
Namun, apakah olahraga lari outdoor memang menyehatkan atau malah beresiko? Tim peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang mengungkap bahwa kualitas udara di beberapa titik Kota Malang kian memburuk. Udara sudah tercemar polusi kendaraan bermotor yang semakin banyak. Terutama pada jam-jam sibuk, seperti pagi hari ketika berangkat ke kantor atau sekolah, dan sore atau malam hari ketika pulang kerja. Polusi udara sangat beresiko karena menyebabkan gangguan pernapasan. Resiko buruk bagi pelari maupun masyarakat sekitar yang ingin mencari keringat, apalagi bagi mereka yang rentan.
Mau olahraga takut kesenggol motor dan hirup asap kendaraan, nggak olahraga takut sakit-sakitan
Outdoor running memang cukup banyak penggemarnya. Di Malang, berbagai event sudah menjamur. Tahun 2025 saja ada puluhan, seperti Malang Half Marathon, Indomaret Fun Run Malang, Trisula Trail Run Challenge, Solidarity Run, TIMES Indonesia Fun Run, FIK Run 5K, EMBA Run 10K, dan masih banyak lagi (bisa diintip pada Instagram @event.runningmalang).
Kebanyakan acara tersebut berbayar. Lalu diikuti berbagai komunitas pelari profesional maupun pelari kalcer. Mereka ini pelari yang sudah nggak mikir besok mau makan apa. Harga outfit-nya sampai jutaan. Tak heran saat acara terasa sangat Istimewa. Jalan-jalan besar ditutup dan kendaraan pun dialihkan. Jadi cukup sehat dan aman karena minim polusi.
Sementara bagi mereka yang tak mampu membayar ya harus tetap running berdampingan dengan asap knalpot, juga resiko disenggol atau menabrak kendaraan. Di Jl. Veteran saja, sudah jelas-jelas ada tanda “Jalur Sepeda” tapi masih dilewati motor, bahkan juga buat parkir mobil. Pedestriannya juga buat jualan. Belum lagi gorong-gorong yang nggak selesai-selesai karena mulai dibangun pas musim hujan.
Memang nasib pelari gratisan, mau cari keringat aja nggak ada ruang. Sungguh dilematis, antara menghirup oksigen atau menyedot karbon monoksidanya “cumi-cumi darat”. Sebuah fenomena olahraga unik bagi masyarakat kota. Mereka tidak punya pilihan, karena kalau tubuh tidak olahraga jadi gampang sakit-sakitan. Maka tak bisa dipungkiri bahwa olahraga sudah menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan. Mereka butuh ruang-ruang olahraga yang sehat, nyaman, dan aman.
Ruang olahraga outdoor di Kota Malang memang ada, banyak. Sudah semestinya pemerintah kota bisa menjamin keamanan, kenyamanan dan keramahan lingkungannya. Jika ada jaminan tersebut, berarti kota ini sudah bertumbuh, beralih rupa dengan progresif. Tapi jika tak ada jaminan, maka ruang-ruang olahraga outdoor itu seperti “sesuatu yang ada tapi sebenarnya tidak ada”.
OUR ADDRESS
Perum Pondok Bestari Indah, Blk. B1 No.49B, Dusun Klandungan, Landungsari, Kec. Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65151
CONTACT US
WORKING HOURS
Monday - Friday
9:00 - 18:00
