
Riset Banyak, Dampak Masih Dicari
ESAI NARATIF
N.R. Fadhli
4/19/2026
Ilustrasi: Active Movement Indonesia
Indonesia sedang berada dalam fase yang menarik dalam dunia riset. Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp1,7 triliun untuk lebih dari 18 ribu penelitian pada tahun 2026, dengan harapan riset tidak hanya berhenti di meja akademik, tetapi benar-benar memberi solusi bagi masyarakat (lihat dan tentunya mohon dibaca dalam: https://kemdiktisaintek.go.id/news/article/18215-riset-kampus-terima-pendanaan-rp17-triliun-kemdiktisaintek-dorong-solusi-nyata-bagi-masyarakat.
Di atas kertas, ini adalah langkah maju. Ekosistem riset diperkuat, produktivitas akademik meningkat, dan Indonesia semakin terlihat di peta publikasi ilmiah global. Banyak kampus kini lebih aktif, dosen dan mahasiswa lebih produktif, dan berbagai bidang ilmu (tentunya termasuk olahraga) mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Namun, ada satu perbandingan menarik yang layak direnungkan secara santai sambil ngopi.
N.R. Fadhli
Penulis
Galih Purnomo Aji
Editor




Jika dibandingkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), nilai Rp1,7 triliun anggaran riset nasional selama satu tahun tersebut bahkan tidak mencapai kebutuhan anggaran untuk beberapa hari operasional program tersebut secara nasional. Dengan kata lain, seluruh dana riset satu tahun masih setara atau bahkan kurang dibandingkan pembiayaan program sosial dalam waktu yang sangat singkat.
Perlu ditegaskan jika perbandingan ini tentu bukan untuk mempertentangkan prioritas, melainkan untuk memberi perspektif lain bahwa investasi pada pengetahuan masih relatif kecil dibandingkan investasi pada intervensi langsung.
Kalau diibaratkan: “Kita sudah serius memberi makan hari ini, tapi belum sebesar itu investasi untuk memahami bagaimana supaya besok anak-anak lebih sehat secara berkelanjutan.”
Dalam beberapa tahun terakhir, ekosistem riset di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan, seiring dengan meningkatnya dukungan pendanaan dan perhatian terhadap dunia akademik. Salah satu indikator yang paling mudah terlihat dari perkembangan ini adalah meningkatnya jumlah publikasi ilmiah. Dalam konteks tersebut, peningkatan publikasi tentu merupakan capaian yang patut diapresiasi. Dalam dunia akademik, hal ini menjadi penanda bahwa kapasitas intelektual bangsa terus berkembang, ditopang oleh ribuan penelitian yang didanai setiap tahun (lihat laporan: https://www.antaranews.com/berita/5520811/sebanyak-18215-riset-kampus-raih-pendanaan-total-rp17-triliun).
Namun, ketika kita menoleh ke lapangan, khususnya pada aspek olahraga dan kesehatan anak, gambarannya belum sepenuhnya sejalan. Banyak anak usia sekolah yang masih kurang aktif bergerak, lebih akrab dengan gawai dibandingkan aktivitas fisik (ini saya rasa tidak perlu data), serta menunjukkan tingkat kebugaran yang relatif rendah. Fenomena ini bukan sekadar kesan sesaat, melainkan bagian dari kekhawatiran yang juga terjadi secara global. Di titik inilah terasa adanya “jarak sunyi” antara dunia riset dan kehidupan nyata. Jika tetap menggunakan analogi masakan dan makanan bisa diibaratkan dapur sudah ramai memasak berbagai hidangan bergizi, tetapi makanan itu belum benar-benar sampai ke meja untuk dinikmati.
Salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa sebagian besar hasil riset masih berhenti pada tahap publikasi. Artikel ilmiah terbit, prosiding tersusun, laporan penelitian selesai, tetapi tidak semuanya berlanjut menjadi program yang benar-benar dijalankan di sekolah atau masyarakat.
Dalam dunia akademik, kondisi ini dikenal sebagai knowledge translation, bagaimana pengetahuan diterjemahkan menjadi praktik nyata.
Masalahnya bukan pada kualitas riset semata. Banyak penelitian di bidang olahraga yang sudah membahas metode latihan yang efektif, model pembelajaran pendidikan jasmani dan strategi meningkatkan kebugaran anak
Namun, tanpa mekanisme yang kuat untuk mengimplementasikan temuan tersebut, dampaknya menjadi terbatas. “Kita sudah tahu cara membuat anak sehat, tetapi belum tentu tahu cara membuat sistem yang membuat mereka benar-benar bergerak.”
Kita akan bergeser ke lingkungan sekolah, sekolah sebenarnya adalah ruang paling strategis untuk menerapkan hasil riset olahraga. Di sanalah anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya, apalagi hari ini fenomena sekolah (bukan negeri) menerapkan sistem full day school). Namun, implementasi program berbasis riset di sekolah seringkali menghadapi berbagai kendala, antara lain keterbatasan waktu pelajaran olahraga (PJOK), variasi kompetensi guru, dan yang paling utama adalah minimnya program yang terstandar dan berkelanjutan
Akibatnya, pendidikan jasmani sering kali berjalan sebagai rutinitas, bukan sebagai intervensi berbasis bukti ilmiah. Padahal, jika dirancang dengan baik, pendidikan jasmani dapat menjadi fondasi penting bagi literasi fisik anak yakni kemampuan, motivasi, dan kepercayaan diri untuk aktif bergerak sepanjang hayat.
Jika kita mendiskusikan tentang kebugaran anak tidak cukup hanya berbicara tentang kekuatan otot atau daya tahan tubuh. Yang lebih mendasar adalah apakah anak merasa nyaman bergerak, memiliki keterampilan dasar motorik, serta apakah anak-anak memahami pentingnya aktivitas fisik?
Tanpa literasi fisik, program olahraga sebaik apa pun akan sulit bertahan. Anak mungkin bisa dipaksa berolahraga sesekali, tetapi tidak akan menjadikannya sebagai kebiasaan. Dalam konteks ini, riset seharusnya tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung anak untuk aktif secara berkelanjutan.
Di titik ini, kita mulai melihat bahwa persoalannya bukan sekadar pada ada atau tidaknya program, melainkan bagaimana seluruh sistem bekerja. Secara ideal, alurnya tampak sederhana: ketika anggaran riset meningkat, penelitian berkembang; hasil penelitian kemudian diterjemahkan menjadi program; program diterapkan di sekolah; dan pada akhirnya anak-anak menjadi lebih aktif dan lebih bugar. Namun dalam praktiknya, alur ini tidak selalu berjalan mulus. Sering kali, mata rantai tersebut terputus di bagian yang paling menentukan, yakni antara hasil riset dan implementasi di lapangan. Banyak temuan ilmiah yang berhenti sebagai laporan atau publikasi, tanpa benar-benar menjelma menjadi program yang hidup di ruang-ruang kelas atau lapangan sekolah.
Di sinilah pentingnya memperkuat jembatan antara dunia riset dan praktik. Kolaborasi antara peneliti dan praktisi perlu diperluas, kebijakan perlu lebih berpijak pada temuan ilmiah, dan yang tidak kalah penting, keberhasilan riset perlu diukur bukan hanya dari jumlah publikasi, tetapi dari dampak nyatanya. Tanpa upaya ini, peningkatan anggaran berisiko hanya menghasilkan lonjakan output akademik, tanpa diikuti peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Situasi ini tentu tidak perlu dilihat sebagai kesalahan pihak tertentu. Justru sebaliknya, ini adalah peluang untuk menyempurnakan sistem yang sudah berjalan. Pemerintah telah membuka jalan melalui dukungan pendanaan yang signifikan, sementara perguruan tinggi merespons dengan peningkatan produktivitas riset. Tinggal satu langkah penting yang perlu diperkuat: memastikan bahwa riset benar-benar terhubung dengan praktik secara konsisten dan terukur. Ibaratnya sederhana, mesinnya sudah baik dan bensinnya sudah penuh, sekarang tinggal bagaimana kendaraan itu diarahkan agar benar-benar sampai ke tujuan, bukan sekadar berputar di tempat.
Ke depan, mungkin sudah saatnya setiap penelitian tidak hanya berhenti pada pertanyaan “apa yang ditemukan”, tetapi juga “siapa yang akan menggunakan temuan ini, dan bagaimana memastikan itu benar-benar digunakan” (ini jangan hanya ada ada pada tulisan saja). Dengan cara pandang seperti ini, riset tidak lagi berhenti sebagai kumpulan pengetahuan, melainkan menjadi bagian dari perubahan sosial yang nyata.
Pada akhirnya, peningkatan anggaran riset adalah langkah strategis yang patut diapresiasi. Namun, keberhasilan sejatinya tidak diukur dari berapa banyak artikel yang terbit, melainkan dari seberapa jauh hasil riset tersebut mampu mengubah kehidupan masyarakat. Dalam konteks olahraga anak, ukurannya sebenarnya sederhana: apakah anak-anak kita menjadi lebih aktif, lebih sehat, dan lebih bugar? Jika jawabannya belum sepenuhnya “ya”, maka pekerjaan kita belum selesai. Barangkali yang dibutuhkan bukan sekadar menambah jumlah riset, melainkan memastikan bahwa riset yang sudah ada benar-benar sampai ke lapangan, ke ruang di mana anak-anak berlari, bermain, dan tumbuh. Karena pada akhirnya, anak tidak membaca jurnal; mereka membutuhkan ruang, kesempatan, dan dorongan untuk bergerak.
OUR ADDRESS
Perum Pondok Bestari Indah, Blk. B1 No.49B, Dusun Klandungan, Landungsari, Kec. Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65151
CONTACT US
WORKING HOURS
Monday - Friday
9:00 - 18:00
