Pendidikan, Disiplin, dan Martabat: Dari Kelas yang Menampar hingga Lapangan yang Menendang

OPINI

N.R. Fadhli

10/19/20253 min read

Tapi sekarang, generasi sudah berubah. Anak-anak hari ini lahir di era yang tahu caranya memprotes lewat story Instagram, bisa merekam kejadian dalam 3 detik, dan punya kesadaran diri (self-awareness) yang jauh lebih tinggi. Ketika mereka ditampar, mereka tidak menganggapnya “bentuk kasih sayang,” tapi “pelanggaran hak asasi.” Mereka tidak menulis surat permintaan maaf, tapi laporan kronologi. Dunia mereka tidak lagi berputar di ruang kelas, melainkan di ruang publik digital, di mana narasi bisa mengubah korban jadi pahlawan, atau sebaliknya.

Dan di sinilah letak tragedi kecil pendidikan kita: sistemnya masih jadul, tapi generasinya sudah upgrade. Kita masih menerapkan gaya mendidik analog di kepala anak-anak digital. Kita masih berpikir mereka perlu ditakut-takuti, padahal mereka butuh dipahami. Kita ingin mencetak manusia berkarakter, tapi sering keliru memahami karakter zaman.

Aristoteles, jauh sebelum dunia mengenal TikTok education, sudah bilang: tujuan pendidikan adalah menumbuhkan kebajikan, bukan rasa takut. Tapi sayangnya, di negeri ini kebajikan kadang digantikan oleh ketaatan. Disiplin sering berarti “tidak melawan,” bukan “tahu kenapa harus taat.” Maka ketika guru menampar siswa, yang muncul bukan kesadaran moral, tapi pertanyaan sederhana: “Emang salah saya sebesar itu?”

Namun, drama soal disiplin ini tak cuma terjadi di ruang kelas. Dunia olahraga punya cermin yang sama, hanya saja lebih glamor. Tahun 2003, Sir Alex Ferguson yang merupakan pelatih legendaris Manchester United, menendang sepatu yang melayang ke wajah David Beckham. Dunia menyebutnya “The Flying Boot Incident.” Mungkin kalau Ferguson jadi guru SMA di Banten, ia sudah diadili di media nasional. Tapi karena dia pelatih top, insiden itu dikenang sebagai “momen tegas.”

Lucu, kan? Di sepakbola disebut motivasi, di sekolah disebut kekerasan. Padahal dua-duanya sama: ekspresi kuasa yang kehilangan kontrol.

Contoh lain: Antonio Conte, pelatih yang dikenal perfeksionis dan emosional. Andrea Pirlo menggambarkan Conte sebagai “binatang buas di pinggir lapangan.” Tapi menariknya, Pirlo mengaku justru terinspirasi. Karena di balik amarah Conte, ada gairah sungguh-sungguh untuk membuat pemainnya tumbuh. Conte marah bukan karena ingin berkuasa, tapi karena ingin anak asuhnya sadar potensi dirinya. Bedanya dengan sebagian guru atau pejabat sekolah kita: marahnya bukan karena visi, tapi karena kaget—kaget anak berambut warna, kaget nilai turun, kaget dunia berubah lebih cepat dari panduan etika berpakaian.

Masalah terbesar pendidikan kita bukan pada kurangnya aturan, tapi pada berlebihnya ego. Guru merasa paling tahu kebaikan, murid merasa hidupnya adalah eksperimen sosial negara. Akibatnya, ruang kelas berubah jadi medan kuasa: siapa yang boleh bicara, siapa yang harus diam. Disiplin pun direduksi jadi indikator ketakutan, bukan kesadaran. Padahal guru dan pelatih punya tanggung jawab yang sama beratnya: mendidik manusia. Tapi sering kali, yang terjadi justru pelampiasan emosi atas sistem yang tidak pernah mendidik pendidiknya sendiri. Kita lupa bahwa marah tanpa arah hanya menghasilkan kepatuhan palsu, bukan perubahan sejati.

Di sisi lain, generasi muda hari ini juga harus belajar: kebebasan bukan berarti kebal dari tanggung jawab. Merokok di sekolah tetap salah, malas berlatih tetap tidak etis. Tapi tanggung jawab guru bukan menampar, melainkan menuntun: membantu anak memahami mengapa perbuatannya salah, bukan hanya memastikan ia takut mengulanginya.

Sekolah dan lapangan olahraga seharusnya menjadi laboratorium kemanusiaan, tempat eksperimen nilai-nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, dan empati. Tapi laboratorium kita sering kebanyakan pengawas, kekurangan peneliti. Kita sibuk menegur hal-hal superfisial seperti kasus rambut diwarnai, seragam tidak dimasukkan, dan kuku panjang. Sementara hal yang paling mendasar, seperti rasa ingin tahu, keberanian berpikir, dan kesadaran moral, dibiarkan kurus kering.

Kita suka bilang ingin mencetak “generasi emas,” padahal yang kita bentuk sering kali hanya generasi takut. Takut salah, takut nilai jelek, takut dianggap kurang ajar. Padahal, generasi emas lahir bukan dari ketakutan, tapi dari keberanian untuk berpikir kritis dan menghormati martabat orang lain, termasuk dirinya sendiri.

Mendidik manusia bukan pekerjaan mudah. Tapi jika kita terus menampar untuk mengajar sopan santun, menendang demi kedisiplinan, dan berteriak demi prestasi, jangan kaget kalau yang kita hasilkan bukan manusia berkarakter, tapi manusia yang hanya tahu dua hal: patuh dan diam.

Jadi mungkin sudah waktunya kita berhenti menampar, berhenti menendang, dan mulai bercermin.
Karena dalam dunia pendidikan, luka tidak pernah bisa jadi metode, dan rasa takut tidak akan pernah jadi hasil belajar.

Ilustrasi: Active Movement Indonesia

Negeri ini selalu punya cara unik untuk menguji logika dan kesabaran kita soal pendidikan. Belum tuntas ribut soal kurikulum yang berubah secepat tren skincare dan perkembangan seri IPhone, kini publik kembali gaduh: seorang kepala sekolah di Banten menampar siswanya karena ketahuan merokok.

Media sosial/netizen langsung terbelah dua, separuh membela dengan narasi “demi disiplin”, separuh lagi menuding “kekerasan atas nama pendidikan.” Sementara si siswa, mungkin sekarang sedang terkenal di TikTok dan seluruh platform media sosial, tanpa sadar jadi simbol dari sistem pendidikan yang masih bingung: antara mendidik dan melatih refleks menghindar dari tamparan.

Mari kita ingat sebentar: di masa dulu, guru yang menepuk kepala, mencubit telinga, atau memukul dengan penggaris kayu panjang dianggap hal biasa. Murid cuma meringis, lalu lanjut cengengesan. Bahkan, dua dekade kemudian, insiden itu berubah jadi bahan tawa di reuni. “Wah, inget gak, dulu kita pernah dihajar Pak Darto gara-gara gak hafal Pancasila!” Semua tertawa, hal ini bukan karena pukulannya menyenangkan, tapi karena dulu kita hidup di zaman yang percaya bahwa rasa sakit fisik lebih ringan daripada rasa malu tidak hormat pada guru.