P-Value dan Persoalan Sederhana di Lapangan

ESAI NARATIF

8/31/2026

Ilustrasi: Active Movement Indonesia

Suatu sore, saya ngopi bersama beberapa pelatih klub bola voli yang saya kelola. Ini sudah biasa kita lakukan dalam rangka persiaan sebelum latihan, sekedar ngobrol saja, mau kasih materi apa nanti, walaupun program sebenarnya sudah ada, walaupun ga bagus bagus amat. Namanya juga warung kopi, bukan meeting resmi: pembicaraan awalnya tidak jauh dari kopi, latihan, atlet yang terlambat, dan orang tua atlet yang kadang lebih tegang daripada pelatih ketika anaknya tidak dimainkan.

Sampai kemudian salah seorang pelatih menunjukkan sebuah artikel ilmiah di telepon genggamnya. Kebetulan sebagian besar pelatih adalah alumni PKO lebih tepatnya mahasiwa saya dulunya yang masih memilki rasa ingin berkembang sebelum terjun ke dunia nyata.

“Ini bagus, Pak,” katanya.

Saya ikut membaca. Judulnya meyakinkan. Metodenya rapi. Tabelnya banyak. Referensinya berderet. Penulisnya juga bukan sembarang orang.

“Lalu?” saya bertanya.

Pelatih itu menggaruk kepala.

“Besok di lapangan saya harus melakukan apa?”

Kami tertawa.

N.R. Fadhli
Penulis

Galih Purnomo Aji
Editor

Bukan karena penelitiannya lucu. Justru karena pertanyaannya sangat serius.

Di lapangan, pelatih memang tidak sedang berhadapan dengan tabel dan p-value. Ia berhadapan dengan anak yang belum bisa menerima bola dengan baik, atlet yang kepercayaan dirinya turun, fasilitas yang seadanya, waktu latihan yang terbatas, dan kadang-kadang orang tua yang meminta anaknya menjadi juara sebelum anaknya belajar melakukan passing dengan benar.

Di situlah saya mulai berpikir: jangan-jangan persoalan kita bukan kekurangan ilmu, tetapi kurangnya jembatan antara ilmu dan kehidupan nyata.

Gagasan tentang ilmu yang bergerak keluar sebenarnya bukan hal baru. Jika kita sedikit sok filosofis, ada catatan Aulus Gellius tentang Aristoteles, dikenal istilah exoteric dan acroatic. Secara sederhana, exoteric merujuk pada pengajaran yang lebih terbuka, sedangkan acroatic berkaitan dengan pembahasan yang lebih khusus dan mendalam bagi kalangan tertentu (Gellius, 1927). Kajian modern tentang karya Aristoteles juga menunjukkan adanya perbedaan antara karya yang ditujukan untuk khalayak lebih luas dan kegiatan pengajaran yang berlangsung lebih khusus di lingkungan Lyceum (Falcon, 2024).

Saya tidak sedang mengusulkan agar kita kembali belajar filsafat Yunani sebelum latihan voli dimulai.

Tetapi ada satu gagasan yang menarik untuk dibawa ke kehidupan akademik hari ini: ilmu boleh sangat dalam, tetapi jangan sampai kehilangan jalan untuk keluar.

Ilmuwan lainnya, Ernest L. Boyer yang merupakan pendidik Amerika yang pernah menjadi rektor State University of New York, Komisioner Pendidikan Amerika Serikat, dan Presiden Carnegie Foundation for the Advancement of Teaching, serta menerima lebih dari 140 gelar doktor kehormatan sudah mengingatkan hal tersebut lebih dari tiga dekade lalu. Dalam Scholarship Reconsidered, Boyer (1990) memperluas makna kerja akademik. Akademisi bukan hanya menemukan pengetahuan (discovery), tetapi juga menghubungkannya (integration), menerapkannya (application), dan mengajarkannya (teaching).

Jadi, penelitian sebenarnya tidak selesai ketika jurnal mengatakan, “Artikel Anda diterima.” Terus selebrasi layaknya merayakan gol kemenangan, unggah medsos, flexing ke dosen muda dengan dalih motivasi BKD. Tidak cukup hanya itu.

Mungkin justru saat itulah pekerjaan berikutnya dimulai.

Masalahnya, kita kadang terlalu terbiasa menganggap bahwa ketika penelitian sudah terbit, tugas akademik sudah selesai. Artikel masuk jurnal, masuk indeks, masuk profil akademik, masuk laporan kinerja, lalu kita merasa lega. Sementara orang yang menjadi objek atau calon pengguna penelitian tersebut mungkin masih bertanya: “Jadi, saya harus melakukan apa?”

Glassick et al. (1997) bahkan menempatkan komunikasi dan refleksi sebagai bagian dari kualitas kerja akademik. Artinya, pengetahuan bukan hanya soal menghasilkan temuan yang benar, tetapi juga bagaimana temuan tersebut dikomunikasikan dan digunakan secara bermakna.

Di bidang olahraga, persoalan ini menjadi semakin menarik karena dampaknya sangat mudah kita lihat.

Kita lihat Indonesia hari ini. WHO (2022) mencatat bahwa sekitar 85 persen remaja Indonesia usia 11–17 tahun tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik. Angka itu tentu tidak bisa serta-merta dijadikan alasan untuk menunjuk akademisi, guru, pelatih, pemerintah, atau orang tua sebagai pihak yang paling bersalah. Aktivitas fisik dipengaruhi begitu banyak hal: lingkungan, keluarga, sekolah, teknologi, fasilitas, kebijakan, kondisi sosial-ekonomi, dan gaya hidup.

Tetapi angka tersebut tetap memberi kita alasan untuk bercermin.

Kalau pengetahuan tentang aktivitas fisik terus berkembang, mengapa anak-anak kita masih sulit bergerak aktif?

Pertanyaan serupa muncul ketika kita membicarakan physical literacy. Istilah ini kadang terdengar rumit, padahal gagasannya cukup sederhana: bagaimana seseorang memiliki kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, pengetahuan, dan pemahaman untuk tetap aktif bergerak sepanjang hidupnya, begitu setidaknya menurut Whitehead (2010).

Anak yang physically literate bukan hanya anak yang bisa melakukan smash, jumping, atau berlari paling cepat. Ia juga memiliki rasa percaya diri untuk bergerak, memahami tubuhnya, menikmati aktivitas fisik, dan memiliki alasan untuk terus aktif ketika tidak ada lagi guru yang menyuruhnya berolahraga.

Kajian terbaru tentang physical literacy di Indonesia menunjukkan bahwa penelitian kita masih banyak berkutat pada keterampilan gerak dasar. Dimensi seperti motivasi, kepercayaan diri, pengetahuan, dan keterlibatan dalam aktivitas fisik sepanjang hayat belum banyak dikaji secara utuh. Instrumen yang digunakan juga masih beragam dan belum sepenuhnya seragam (Ridha et al., 2025).

Ini bukan berarti penelitian tersebut buruk.

Justru sebaliknya, penelitian itu membantu kita melihat bahwa pekerjaan rumah kita masih panjang.

Kita bisa saja memiliki semakin banyak artikel tentang physical literacy. Tetapi artikel yang semakin banyak tidak otomatis membuat anak-anak Indonesia semakin aktif.

Kita bisa memiliki banyak buku resep, tetapi dapur tetap bingung kalau tidak ada yang menerjemahkan resep itu menjadi masakan.

Di sinilah saya kira peran akademisi perlu dibicarakan dengan lebih jujur, tetapi juga lebih santai.

Akademisi tidak harus turun dari kampus lalu mengambil alih pekerjaan guru dan pelatih. Profesor biomekanika tidak harus membawa peluit. Ahli fisiologi tidak perlu menggantikan pelatih. Peneliti pendidikan tidak perlu berdiri di depan kelas setiap hari.

Tetapi pengetahuan mereka harus punya jalan menuju mereka yang bekerja di sana.

Penelitian biomekanika semestinya dapat membantu pelatih memahami gerak.

Penelitian fisiologi dapat membantu menentukan beban latihan.

Psikologi olahraga dapat membantu pelatih memahami atlet.

Penelitian pendidikan jasmani dapat membantu guru menghadapi kelas yang nyata, bukan kelas yang jumlah siswanya selalu ideal dan fasilitasnya selalu tersedia.

Penelitian aktivitas fisik dapat membantu pemerintah membuat program yang benar-benar mungkin dilakukan masyarakat.

Dan penelitian tentang anak harus kembali kepada kepentingan anak.

Hal yang sama berlaku dalam olahraga prestasi. Indonesia tidak kekurangan istilah. Kita punya talent identification, long-term athlete development, sport science, high performance, evidence-based training, dan berbagai istilah lainnya. Kajian Rahadian et al. (2021) menunjukkan bahwa prestasi olahraga elite membutuhkan sistem yang terintegrasi, termasuk pembinaan, fasilitas, pendanaan, kompetisi, dan dukungan sport science.

Masalahnya bukan apakah kita mengenal istilah-istilah tersebut.

Masalahnya adalah apakah istilah itu benar-benar bekerja di lapangan.

Sebab atlet tidak menjadi lebih baik hanya karena program latihannya menggunakan istilah bahasa Inggris.

Di titik inilah kita perlu membedakan antara memiliki pengetahuan dan membuat pengetahuan bekerja.

Yang pertama adalah kapasitas.

Yang kedua adalah kebermanfaatan.

Dan keduanya tidak selalu berjalan otomatis.

Karena itu, saya tidak sedang berpendapat bahwa Indonesia memiliki terlalu banyak profesor. Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa banyaknya profesor adalah penyebab rendahnya literasi fisik atau prestasi olahraga. Kesimpulan seperti itu terlalu sederhana dan tidak didukung bukti kausal.

Yang perlu kita renungkan justru pertanyaan yang lebih sederhana:

Jika kapasitas keilmuan kita semakin besar, apakah manfaatnya juga semakin terasa?

Pertanyaan ini menurut saya jauh lebih sehat daripada sibuk menghitung siapa yang paling produktif.

Publikasi ilmiah tetap penting. Sangat penting. Tanpa publikasi, ilmu akan sulit diuji, dikritik, dan dikembangkan. Kita tetap membutuhkan penelitian dasar, teori, metodologi, dan artikel ilmiah yang mungkin manfaat praktisnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Tetapi publikasi seharusnya bukan garis finish.

Ia lebih tepat menjadi salah satu halte dalam perjalanan pengetahuan.

UNESCO (2021), melalui Recommendation on Open Science, juga mendorong cara pandang yang lebih luas terhadap kontribusi ilmiah. Keterbukaan pengetahuan, pertukaran pengetahuan, keterlibatan masyarakat, pengaruh terhadap kebijakan dan praktik, serta dampak sosial semakin penting dalam melihat nilai sebuah penelitian (UNESCO, 2015).

Maka mungkin sudah waktunya kita sedikit mengubah kebiasaan.

Bukan meninggalkan publish or perish dengan slogan baru yang sama-sama sibuk.

Tetapi bergerak dari publish and stop menjadi publish and make it useful.

Meneliti karena ada persoalan yang memang perlu dijawab.

Menerbitkan karena hasil penelitian harus dapat dipertanggungjawabkan.

Menerjemahkan karena tidak semua guru dan pelatih membaca jurnal ilmiah.

Menguji karena teori perlu bertemu kenyataan.

Mengevaluasi karena solusi pertama belum tentu solusi terbaik.

Kemudian memperbaikinya bersama-sama.

Saya kembali teringat warung kopi tadi.

Pelatih tersebut sebenarnya tidak sedang menolak ilmu. Ia justru sedang meminta ilmu agar lebih dekat dengannya.

“Kalau penelitian ini bagus, besok saya pakai bagaimana?”

Menurut saya, itu bukan pertanyaan yang merendahkan akademisi.

Justru itu penghargaan.

Sebab ia menganggap penelitian kita mungkin bisa membantunya.

Mungkin selama ini kita terlalu sering mempertemukan akademisi dengan akademisi. Seminar diisi akademisi. Panel diisi akademisi. Jurnal dibaca akademisi. Reviewer adalah akademisi. Peserta konferensi sebagian besar akademisi.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Tetapi sesekali, mungkin kita perlu memperbanyak meja yang mempertemukan peneliti dengan pelatih, profesor dengan guru, kampus dengan komunitas, dan jurnal dengan lapangan.

Bukan untuk membuat akademisi kehilangan kedalaman.

Justru agar kedalaman itu memiliki tempat untuk bekerja.

Sebab pelatih mempunyai masalah yang mungkin belum pernah masuk ke laboratorium. Guru memiliki pengalaman yang tidak selalu muncul dalam kuesioner. Komunitas memiliki kebutuhan yang tidak selalu tertulis dalam proposal penelitian. Sebaliknya, peneliti memiliki pengetahuan yang mungkin dapat membantu mereka mengambil keputusan dengan lebih baik (Tremblay et al., 2018).

Kalau keduanya bertemu, kemungkinan besar kita tidak hanya menghasilkan penelitian yang lebih baik.

Kita juga mungkin menghasilkan praktik yang lebih baik.

Pada akhirnya, saya kira kita perlu berhenti sebentar dari kebiasaan bertanya, “Berapa banyak yang sudah saya hasilkan sebagai akademisi?”

Lalu menggantinya dengan pertanyaan lain:

“Berapa banyak orang yang bisa menikmati manfaat dari apa yang sudah saya hasilkan?”

Ini bukan soal mengurangi standar akademik. Bukan pula soal mengganti jurnal dengan kegiatan pengabdian semata.

Ini tentang menyambungkan kembali apa yang selama ini kadang berjalan sendiri-sendiri: penelitian, pendidikan, praktik, kebijakan, dan masyarakat.

Penelitian bukan hanya urusan BKD.

Bukan hanya urusan angka kredit.

Bukan hanya tiket kenaikan pangkat.

Dan tentu saja bukan sekadar bahan untuk flexing bahwa kita sudah menerbitkan sekian artikel atau berhasil menjadi profesor.

Kita boleh bangga dengan pencapaian akademik. Itu adalah hasil kerja keras dan layak dihargai.

Tetapi mungkin kebanggaan yang lebih panjang umurnya adalah ketika seorang guru berkata, “Penelitian itu membantu saya mengajar.”

Ketika pelatih berkata, “Metode itu membuat atlet saya berkembang.”

Ketika pemerintah berkata, “Data itu membantu kami mengambil keputusan.”

Atau ketika seorang anak yang sebelumnya malas bergerak akhirnya menemukan bahwa olahraga ternyata menyenangkan.

Di situlah ilmu mulai menemukan rumahnya.

Mungkin inilah makna eksoteris yang bisa kita pinjam untuk refleksi hari ini: ilmu yang tidak takut keluar dari ruangnya sendiri.

Bukan ilmu yang menjadi dangkal agar mudah dipahami, tetapi ilmu yang tetap kuat secara akademik sekaligus mau diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa dirasakan manfaatnya.

Saya berharap kita tidak melihat persoalan ini sebagai pertarungan antara akademisi dan praktisi. Kita berada di sisi yang sama.

Peneliti membutuhkan lapangan.

Lapangan membutuhkan peneliti.

Guru membutuhkan ilmu.

Ilmu membutuhkan pengalaman guru.

Pelatih membutuhkan bukti.

Bukti membutuhkan persoalan nyata untuk diteliti.

Dan masyarakat adalah alasan mengapa semua kerja itu layak dilakukan.

Karena itu, mungkin tugas kita ke depan bukan sekadar menghasilkan lebih banyak pengetahuan.

Tugas kita adalah membuat lebih banyak pengetahuan yang berguna.

Dan mungkin, suatu sore nanti, di warung kopi yang sama, seorang pelatih membuka artikel penelitian kita, membaca beberapa halaman, lalu berkata:

“Pak, ini bisa saya pakai besok.”

Kalau itu terjadi, kita tidak hanya berhasil menerbitkan penelitian.

Kita berhasil membuat ilmu pulang ke rumahnya: masyarakat.

Mari kita bangun jembatan itu bersama-sama.

  1. Boyer, E. L. (1990). Scholarship reconsidered: Priorities of the professoriate. ERIC.

  2. Falcon, A. (2024). Aristotle’s philosophical works. In E. N. Zalta & U. Nodelman (Eds.), The Stanford Encyclopedia of Philosophy.

  3. Gellius, A. (1927). The Attic Nights of Aulus Gellius (Vol. 212). W. Heinemann.

  4. Glassick, C. E., Huber, M. T., & Maeroff, G. I. (1997). Scholarship assessed: Evaluation of the professoriate. John Wiley & Sons.

  5. World Health Organization. (2022). Global health sector strategies on, respectively, HIV, viral hepatitis and sexually transmitted infections for the period 2022–2030. World Health Organization.

  6. Rahadian, A., Ma’mun, A., Berliana, B., & Nuryadi, N. (2021). 2018 Asian Games Success: Policies for the Development of Indonesian Elite Athletes. Jurnal Maenpo: Jurnal Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, 11(1), 1–12.

  7. Ridha, S., Warni, H., & Arifin, S. (2025). Physical literacy in Indonesian school physical education: a systematic review of concepts, assessment, and implementation. Edu Sportivo: Indonesian Journal of Physical Education, 6(3), 285–301.

  8. Tremblay, M. S., Costas-Bradstreet, C., Barnes, J. D., Bartlett, B., Dampier, D., Lalonde, C., Leidl, R., Longmuir, P., McKee, M., Patton, R., Way, R., & Yessis, J. (2018). Canada’s Physical Literacy Consensus Statement: process and outcome. BMC Public Health, 18(Suppl 2), 1034. https://doi.org/10.1186/s12889-018-5903-x

  9. UNESCO. (2015). Quality physical education (QPE): Guidelines for policy makers. UNESCO Publishing.

  10. UNESCO. (2021). UNESCO recommendation on open science. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.

  11. Whitehead, M. (2010). Physical literacy: Throughout the lifecourse. Routledge

OUR ADDRESS

Perum Pondok Bestari Indah, Blk. B1 No.49B, Dusun Klandungan, Landungsari, Kec. Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65151

WORKING HOURS

Monday - Friday
9:00 - 18:00