
Mengapa orang berolahraga bukan hanya untuk menang, tapi juga mengejar kesehatan, persahabatan, dan kebahagiaan
ESAI NARATIF
Alvon Dwi Kurnia
12/5/2025


Ilustrasi: Galih Purnomo Aji
Saya masih ingat dulu pertama kali ikut latihan voli di sekolah SMA. Waktu itu, saya benar-benar bersemangat. Dalam pikiran saya, tujuan utama ikut tim voli hanyalah satu yaitu menang. Saya ingin bisa jadi pemain inti, yang diandalkan tim, dan membawa nama sekolah juara di setiap turnamen. Setiap sore, saya selalu datang lebih awal ke lapangan. Saat teman-teman lain masih bersantai, saya sudah sibuk pemanasan lalu memantulkan bola ke tembok, berlatih passing dan servis sendirian. Saya ingin pelatih tahu kalau saya serius dan pantas diberi kesempatan untuk main. Namun, kenyataan tidak selalu seindah kenyataan. Ketika pertandingan tiba, nama saya tidak ditulis dalam daftar pemain utama. Saya duduk di bangku cadangan sambil menatap lapangan dengan perasaan campur aduk antara kecewa, malu, dan kesal. Semua latihan keras yang saya jalani selama ini rasanya seperti sia-sia. Saat teman-teman bersorak dan merayakan poin, saya justru tenggelam dalam pikiran sendiri. Pernah terlintas niat untuk berhenti saja, karena buat apa latihan dengan susah payah kalau ujungnya tidak di mainkan?
Seiring berjalannya waktu, dan perlahan-lahan pandangan saya mulai berubah. Saya tetap datang latihan meskipun tidak dimainkan. Di situ saya mulai menyadari bahwa olahraga ternyata tidak soal siapa yang menang atau siapa yang kalah. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga dari itu. Saat latihan, saya bisa tertawa bersama teman-teman ketika salah servis, saling memberi semangat ketika lelah, bahkan menepuk bahu satu sama lain setelah kalah dalam uji coba. Dari situ saya belajar, bahwa inti dari olahraga bukan hanya tentang membuktikan jati diri, tetapi juga tentang menikmati proses dan menghargai kebersamaan. Olahraga membuat saya memahami makna kerja sama. Dalam voli, kita tidak bisa menang sendirian. Semua pemain mempunyai peran masing-masing, dari tosser, smash, hingga libero. Ketika satu orang melakukan kesalahan, yang lain berusaha menutupinya, bukan menyalahkan. Di situ saya merasakan kekuatan persahabatan yang sebenarnya. Kami tidak hanya terhubung dengan bola, tapi juga karena rasa saling percaya antar sesama tim. Kadang kami berdebat soal strategi, tapi setelah latihan tetap bisa tertawa bersama. Olahraga mengajarkan saya bahwa dalam hidup pun, kita butuh orang lain untuk lebih baik dan maju. Pendekatan seperti inilah yang membuat saya menekuni voli aktivitas ini telah menjadi hobi dan bagian dari rutinitas saya sehari hari.
Selain kebersamaan, saya juga mulai menyadari manfaat olahraga itu besar bagi kesehatan. Setelah rutin latihan, tubuh saya jadi lebih kuat dan bugar. Nafas lebih teratur, tidur lebih nyenyak, dan pikiran jadi lebih tenang. Kalau dulu saya gampang stres karena tugas sekolah, sekarang rasanya lebih ringan karena ada tempat untuk menyalurkan energi dan emosi. Olahraga seperti voli bukan cuma membuat tubuh sehat, tapi juga menjaga keseimbangan mental. Keringat yang menetes di lapangan rasanya jadi simbol bahwa saya sedang membersihkan pikiran dari hal-hal yang membebani / kotor.
Menariknya, dari pengalaman ini saya juga belajar tentang arti kebahagiaan yang sederhana. Dulu saya hanya berpikir kebahagiaan datang ketika saya menang dan dipuji banyak orang. Sekarang, saya justru bahagia ketika bisa bermain meski hanya latihan, tertawa karena bola meleset, atau ketika semua orang bertepuk tangan setelah berhasil melakukan rally panjang. Disitulah kebahagiaan dalam olahraga ternyata muncul bukan karena hasil, tapi karena prosesnya yang kita nikmati dengan sepenuh hati. Bermain voli juga membuat saya lebih mengenal diri sendiri. Saya belajar untuk tidak mudah menyerah, lebih sabar, dan mau menerima kenyataan bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan. Ada kalanya kita harus menunggu giliran jam tayang, memberi kesempatan pada orang lain, atau belajar dari bangku cadangan. Justru di situ mental saya di uji. Saya belajar bahwa kekuatan bukan hanya ada di tubuh saja, tapi juga perasaan cara kita tetap berjuang meski tidak selalu terlihat.
Sekarang, kalau ada yang bertanya kenapa sih saya masih bermain voli padahal kadang tidak diikut turnamen, saya akan menjawab karena saya bahagia melakukannya. Saya main bukan untuk membuktikan apa-apa, tapi karena voli ini sudah jadi bagian hobi dari hidup saya. Dari olahraga ini saya mendapatkan banyak hal positif tubuh yang sehat, teman yang tulus, dan kebahagiaan serta kebersamaan yang tidak bisa dibeli dengan piala/trofi.
Dari situlah akhirnya saya paham bahwa kemenangan bukan satu-satunya tujuan dalam olahraga. Menang memang menyenangkan, tetapi ada hal yang lebih penting kesehatan yang terjaga, persahabatan yang tumbuh, dan kebahagiaan yang terus hidup di dalam diri. Karena pada akhirnya, olahraga bukan sekadar kompetisi, tetapi perjalanan untuk mengenal diri sendiri dan menikmati setiap langkah di dalamnya.
Penulis: Alvon Dwi Kurnia
Editor: Aditya Diana Putra


OUR ADDRESS
Perum Pondok Bestari Indah, Blk. B1 No.49B, Dusun Klandungan, Landungsari, Kec. Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65151
CONTACT US
WORKING HOURS
Monday - Friday
9:00 - 18:00
