Lembaran “Usang” yang Terabaikan: Sumber-sumber Koran Masa Orde Baru untuk Mengkaji Perkembangan Olahraga di Indonesia

ESAI NARATIF

4/29/2026

Ilustrasi: Koran Jawa Pos Selasa, 25 Oktober 1977.

Cuaca Ibukota yang cukup terik kala itu tak mengendorkan semangat Joni (nama disamarkan) untuk menelusuri arsip koran di Perpustakaan Nasional Jakarta. Dengan berbekal pengetahuan awal tentang topik skripsinya (Sejarah Keikutsertaan Indonesia dalam SEA Games Sejak 1977) dan tekad yang sudah menggunung, dia rela desak-desakan naik KRL dan berjalan dari stasiun menuju Gedung C Lt. 7 Perpusnas Salemba, tepatnya di ruangan koleksi surat kabar Indonesia sejak tahun 1970an. Saat itu saya berada di ruangan yang sama karena sedang menemani mahasiswa Sejarah untuk Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Jakarta pertengahan Maret 2026. Joni terlihat cukup sabar membolak-balik tumpukan koran usang di depannya. Terkadang dia melamun—mungkin membayangkan kondisi olahraga di masa lalu—dan sesekali bersin-bersin ketika membuka koran pesanannya yang baru sampai di meja. Bukan karena dia flu, tapi memang koleksi arsip koran di Perpusnas Salemba debunya lari ke mana-mana.

Saat itu saya sadar, di tengah derasnya arus digitalisasi dan kemudahan akses informasi masa kini, masih ada banyak arsip koran yang belum terdigitalisasi. Saya ngobrol banyak dengan Joni, karena saya pernah mengajar mata kuliah Sejarah Olahraga di Prodi Sejarah dan Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Malang. Lalu saya bertanya ke Joni, “kenapa tertarik topik SEA Games?”. “Ya..., karena sumbernya banyak pak di sini”, jawabnya sambil tersenyum polos. Dari situ saya jadi sadar ternyata memang dalam koran-koran terbitan 1970an atau masa Orde Baru, mayoritas ada rubrik “Olah Raga” atau “Olahraga”. Nah ini kan harta karun bagi kami yang dari Jurusan Sejarah. Bahkan bisa menjadi sumber penting juga bagi teman-teman dari Fakultas Ilmu Keolahragaan, asalkan tugas akhir mereka juga ada yang mention sejarah keolahragaan di Indonesia.

Kita sering kali mengabaikan satu sumber historis yang sangat kaya—seperti koran atau surat kabar dan majalah—karena mungkin dinilai tidak formal. Tapi justru sumber koran yang informal ini seringkali menyajikan realitas-realitas lain yang menarik, khususnya dalam hal ini adalah perkembangan olahraga di Indonesia. Bagi kajian sejarah olahraga di Indonesia, koran yang terbit sejak dekade 1970-an menyimpan jejak yang tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif terhadap dinamika sosial, politik, dan budaya masyarakat. Dalam konteks ini, surat kabar bukan sekadar media pemberitaan, melainkan arsip hidup yang merekam perjalanan olahraga sebagai bagian dari sejarah bangsa.

Sumber melimpah, tapi jarang yang mengakses

Sejak tahun 1970-an, mayoritas surat kabar di Indonesia telah memiliki rubrik khusus olahraga. Rubrik ini tidak hanya memuat hasil pertandingan, tetapi juga laporan mendalam tentang atlet, dinamika organisasi olahraga, hingga perkembangan cabang olahraga (cabor) di tingkat nasional maupun internasional. Koran-koran seperti Kompas, Suara Karya, Jawa Pos, Berita Yudha, Waspada dan Pelita secara konsisten menghadirkan liputan olahraga yang cukup komprehensif. Dalam banyak kasus, pemberitaan olahraga menjadi salah satu daya tarik utama bagi pembaca. Bahkan, di masa Orde Baru olahraga direncanakan untuk untuk masuk Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) guna meningkatkan gerakan "sport for all" dan kebugaran masyarakat Indonesia saat itu (lihat gambar berikut).

Ronal Ridhoi
Penulis

Galih Purnomo Aji
Editor

Ketersediaan sumber ini menjadi sangat penting ketika kita berbicara tentang penulisan sejarah olahraga. Berbeda dengan dokumen resmi yang cenderung formal dan terbatas, koran menawarkan perspektif yang lebih dinamis. Ia menangkap momen-momen kemenangan, kekalahan, kontroversi, politisasi, hingga euforia publik secara langsung dan kontekstual. Dengan kata lain, koran menyuarakan kondisi masyarakat yang sering kali tidak ditemukan dalam arsip resmi.

Dalam kajian sejarah, khususnya dalam pendekatan sejarah sosial-budaya, koran memiliki nilai metodologis yang tinggi. Ia memungkinkan peneliti untuk menelusuri bagaimana olahraga dipersepsikan oleh masyarakat, bagaimana negara memanfaatkan olahraga sebagai alat legitimasi politik, serta bagaimana identitas nasional dibentuk melalui prestasi atlet. Misalnya, pemberitaan tentang keberhasilan Indonesia di ajang SEA Games atau Asian Games tidak hanya berbicara soal medali, tetapi juga membangun narasi kebanggaan nasional dan kekuatan negara.

Selain itu, koran juga dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah tiap cabang olahraga secara lebih spesifik. Sepak bola, bulu tangkis, atletik, hingga olahraga tradisional memiliki jejak panjang dalam pemberitaan media. Kita dapat melacak bagaimana popularitas suatu cabang olahraga meningkat atau menurun, bagaimana konflik dalam organisasi olahraga terjadi, atau bagaimana figur atlet menjadi ikon publik. Dalam konteks ini, koran berfungsi sebagai kronik harian yang menyusun mozaik sejarah dan dinamika naik-turunnya olahraga secara kronologis.

Bagi mahasiswa jurusan sejarah maupun ilmu keolahragaan, pemanfaatan sumber koran membuka peluang penelitian yang luas dan menarik. Sayangnya, potensi ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Banyak penelitian sejarah olahraga di Indonesia masih bertumpu pada sumber sekunder atau narasi umum, tanpa menggali kekayaan data primer yang tersedia dalam arsip koran. Padahal, dengan pendekatan yang tepat seperti analisis wacana, hermeneutik, kajian media, atau bahkan pendekatan kuantitatif terhadap frekuensi pemberitaan tiap cabor, mahasiswa dapat menghasilkan karya yang lebih orisinal dan kontekstual.

Saksi bisu yang setia dan banyak bercerita

Koran adalah saksi bisu yang setia sekaligus banyak cerita-cerita menariknya. Ia mencatat, menyimpan, dan merekam setiap detak perjalanan olahraga Indonesia. Tugas kita sebagai akademisi dan generasi penerus adalah membacanya kembali, menafsirkannya, dan menjadikannya sebagai pijakan untuk memahami siapa kita sebagai bangsa yang pernah, sedang, dan akan terus bergerak maju melalui olahraga.

Jika ditelusuri lebih jauh, rubrik olahraga dalam surat kabar masa Orde Baru juga memperlihatkan adanya hierarki popularitas antar cabang olahraga. Ada yang menjadi “tokoh utama”, ada pula yang menjadi “tokoh figuran”. Seperti sepak bola dan bulu tangkis hampir selalu menjadi primadona pemberitaan yang selalu muncul. Kompetisi domestik seperti Perserikatan hingga Galatama, serta kiprah tim nasional, mendominasi halaman olahraga dan kerap ditempatkan sebagai headline. Hal ini tidak terlepas dari basis massa pendukung yang besar serta daya tarik emosional yang tinggi. Bulu tangkis juga menempati posisi istimewa, terutama sejak Indonesia berjaya di berbagai turnamen internasional seperti All England dan Thomas Cup. Atlet-atlet bulu tangkis bahkan sering kali menjadi simbol kebanggaan nasional yang bolak-balik diliput.

Ilustrasi: (kiri) Koran Waspada Kamis, 10 September 1987; (kanan) Koran Suara Karya Kamis, 23 Nopember 1972.

Meskipun koran merupakan lembaran usang yang terabaikan, tapi ia tidak sepenuhnya mengabaikan cabang olahraga lain yang mungkin kurang populer di mata publik. Cabang-cabang seperti renang, polo air, tinju, pencak silat, dan balap sepeda memang jarang menjadi tajuk utama tetapi tetap hadir secara konsisten dalam pemberitaan. Hal itu terutama ketika berkaitan dengan ajang multi-event seperti Pekan Olahraga Nasional maupun kompetisi regional dan internasional. Menariknya, cabang-cabang ini justru sering menjadi penyumbang medali emas bagi Indonesia. Di sinilah terlihat bahwa koran tidak hanya merefleksikan selera pasar, tetapi juga menjalankan fungsi dokumentatif terhadap prestasi olahraga yang lebih luas. Dengan membaca secara cermat, kita dapat menangkap dinamika antara popularitas dan kontribusi prestasi, serta bagaimana media membentuk sekaligus dipengaruhi oleh kecintaan publik terhadap cabang olahraga tertentu.

Pendekatan yang interdisipliner

Sekiranya September-Desember 2025, saya diminta rekan—Dosen FIK—untuk membantu mengajar di prodinya. Katanya dia butuh pendekatan baru dalam mengajarkan matakuliah Filsafat, Sejarah, Antropologi, dan Sosiologi Olahraga (nama matkulnya aneh sih, tapi ya gak apa-apa). Saya pun menerimanya dengan senang hati karena rekan saya tersebut adalah pimpinan departemen sekaligus teman ngopi.

Yang menjadi sorotan kami bukan pada materinya, tapi pada pendekatan interdisipliner sebagai kunci dalam kolaborasi ini. Kami ajarkan mahasiswa FIK berfilsafat, banyak membaca, dan bahkan menulis esai dengan tema-tema historis menurut cabor masing-masing. Hasilnya di luar ekspektasi kami, bayangan kami yang berhasil untuk “bisa menulis” dalam satu kelas paling tidak 5 orang, tapi ternyata lebih dari itu. Kami berhasil setidaknya mempengaruhi sekitar 7-12 mahasiswa untuk bisa menulis dan bahkan mempublikasikannya di media online nasional, salah satunya media activemovement.or.id ini.

Melalui sumber koran, kita juga bisa melatih interdisiplineritas kajian sejarah dan olahraga, bahkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Misal, mahasiswa sejarah dapat menggunakan koran untuk memahami konteks sosial dan politik dari suatu peristiwa olahraga, sementara mahasiswa olahraga dapat memanfaatkannya untuk menelusuri perkembangan teknik, strategi, atau performa atlet dari waktu ke waktu. Kolaborasi antara kedua disiplin ini akan menghasilkan perspektif yang lebih utuh dalam memahami olahraga sebagai fenomena historis sekaligus sosial-budaya dan politik.

Meski demikian, penggunaan koran sebagai sumber sejarah dan olahraga juga memiliki tantangan. Bias media, keterbatasan akses arsip, serta perubahan format dari cetak ke digital menjadi beberapa kendala yang perlu diatasi. Di sinilah peran institusi pendidikan dan lembaga arsip menjadi penting untuk melakukan digitalisasi dan pelestarian dokumen-dokumen tersebut. Tanpa upaya ini, kita berisiko kehilangan sebagian memori kolektif bangsa yang terekam dalam lembar-lembar koran. Hingga saat ini, lembaga resmi yang telah mendigitalisasi sumber koran di Indonesia hanya ada dua, yaitu dalam website khastara.go.id (milik Perpusnas) dan mpn.komdigi.go.id (milik Kementerian Komunikasi dan Digital). Keduanya memberikan angin segar bagi kami yang senang menggunakan sumber koran untuk menulis artikel.

Bagi generasi Z yang kini kuliah di bidang keolahragaan (seperti: calon pelatih, analis fisik, maupun praktisi olahraga), arsip koran menawarkan manfaat yang sangat relevan. Melalui pemberitaan masa lalu, mereka dapat menelusuri pola pembinaan atlet, dinamika kompetisi, hingga strategi yang pernah digunakan dalam berbagai cabang olahraga. Informasi ini bukan sekadar nostalgia, tetapi dapat menjadi bahan refleksi kritis untuk merumuskan pendekatan latihan, manajemen tim, dan pengembangan prestasi yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.

Koran itu tidak bisa dianggap remeh, karena membaca rekam jejak olahraga di Indonesia melalui koran yang memberitakan ajang seperti Pekan Olahraga Nasional (PON), SEA Games, Asian Games, atau Olimpiade sebenarnya dapat membangun kesadaran historis bahwa keberhasilan atlet tidak pernah lahir secara instan. Setiap capaian merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan disiplin, kegagalan, dan konsistensi. Oleh karena itu, siapa pun yang berkecimpung dalam dunia olahraga—mulai dari pelatih, atlet, akademisi, maupun pengelola organisasi olahraga—perlu memahami sejarah cabang olahraganya. Pengetahuan historis ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menjadi landasan penting dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan olahraga yang lebih bijak, realistis, dan berorientasi jangka panjang di Indonesia.