
Lebih dari Sekadar Makan Gratis
ESAI NARATIF
N.R. Fadhli
1/20/2026


Ilustrasi: Galih Purnomo Aji
Ada cerita kecil yang sering kami ulang, namun rasanya selalu relevan. Seusai mengajar, warung kopi menjadi tempat kami menurunkan beban, bukan hanya tas dan laptop, tetapi juga pikiran. Di grup WA FUNFootball, yang berisi guru dan dosen, obrolan ringan kerap bersinggungan dengan isu besar. Program Makan Bergizi Gratis muncul sebagai bahan candaan: “Info ngopi. Ada MBG, silakan merapat.” Tawa pun pecah. Namun canda itu menyimpan pesan yang lebih dalam. Ia menandai kegelisahan tentang kesejahteraan guru, arah kebijakan pendidikan, dan pertanyaan mendasar: apakah upaya menyehatkan anak cukup dengan makanan, atau kita sedang melupakan kebutuhan lain yang sama pentingnya , yaitu gerak, ruang bermain, dan kehidupan yang lebih manusiawi bagi anak dan pendidiknya.
N.R. Fadhli
Penulis
Galih Purnomo Aji
Editor


Ketika pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), niatnya mulia: memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi di sekolah, sebagai bagian dari upaya menurunkan stunting dan mengatasi masalah gizi secara luas. Program ini bahkan diperluas pada 2025 dengan target menjangkau puluhan juta anak di seluruh negeri . Namun, perjalanan program ini juga membuka ruang refleksi yang lebih dalam tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan anak bangsa, bukan hanya makanan, tetapi aktivitas fisik yang cukup agar tubuh dan jiwa mereka tumbuh optimal.
Berita-berita terbaru menunjukkan bahwa MBG bukan tanpa tantangan. Di satu sisi, pemerintah sudah mengalokasikan anggaran puluhan sampai ratusan triliun rupiah untuk menjalankan program ini, dengan target mencapai puluhan juta anak dalam beberapa tahun ke depan . Namun di sisi lain, implementasinya menghadapi kritik serius terkait keamanan pangan dan pelaksanaan di lapangan: beberapa kasus keracunan massal dikaitkan dengan makanan dari program ini di sejumlah daerah, yang memicu seruan dari kelompok masyarakat untuk mengevaluasi program secara menyeluruh. Selin itu beberapa minggu terahir paling santer adalah perbandingan gaji petugas MBG dengan gaji guru di Indonesia. Sangat timpang. Banyak argumen disini.
Kritik teknis ini memberi pelajaran penting: tidak cukup hanya memikirkan gizi yang masuk ke dalam tubuh anak, tetapi juga bagaimana tubuh anak berdinamika, bergerak, dan berkembang secara fisik. Tanpa aktivitas fisik yang memadai, bahkan nutrisi yang baik pun bisa berubah menjadi masalah kesehatan baru.
Salah satu data yang perlu direnungkan adalah prevalensi obesitas pada anak di Indonesia. Berdasarkan data SSGI 2022 yang dilampirkan dalam portal KEMENKO PMK, Obesitas pada anak usia 5-12 yaitu 10,8% gemuk dan 9,2% obesitas, artinya 1 dari 5 anak usia 5-12 tahun gemuk atau obesitas karena kurang aktifitas fisik: 64,4%. Terdapat 16 % anak usia 13-15 tahun gemuk dan obesitas sementara pada usia 16-18 tahun: 13,5% karena kurang aktifitas fisik 49,6%. Kondisi seperti ini bukan sekadar angka statistik; ini adalah gambaran anak-anak yang tubuhnya “dibekali” nutrisi, tetapi tidak diberi ruang untuk bergerak bebas dan sehat setiap hari.
Lebih jauh lagi, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik berkaitan erat dengan kejadian obesitas pada anak. Sebuah studi Indonesia menemukan hubungan yang signifikan antara kurangnya aktivitas fisik dan kejadian obesitas pada anak usia sekolah, karena keseimbangan energi terganggu ketika asupan lebih besar daripada pengeluaran tubuh. Selain itu, studi lain menegaskan bahwa aktivitas fisik adalah bagian utama dari strategi pencegahan obesitas anak, menunjukkan bahwa kegiatan fisik di sekolah, keluarga, dan komunitas dapat menjadi penopang kesehatan anak secara menyeluruh.
Kisah ini membuat kita bertanya: seandainya sebagian dari anggaran besar untuk MBG dan intervensi gizi juga dialokasikan untuk mendorong anak bergerak lebih banyak setiap hari (melalui kebijakan yang dirancang agar anak tidak hanya makan sehat, tetapi juga hidup sehat) apa yang bisa berubah?
Bayangkan di sebuah desa kecil di Jawa Timur: ayah dan ibu mengantar anaknya berjalan kaki ke sekolah setiap pagi, bukan karena tidak ada motor, tetapi karena itu menjadi kebiasaan sehat keluarga. Di taman lingkungan RT/RW, anak-anak berkumpul untuk bermain bola, lompat tali, atau “enggrang” setelah pulang sekolah. Di sekolah, jam PJOK bukan pelengkap semata, tetapi waktu yang dimaknai gurunya sebagai kesempatan penting bagi anak untuk meningkatkan ketangkasan, kekuatan tubuh, dan konsentrasi belajar. Ketika semua itu terjadi, nutrisi yang masuk ke tubuh anak akan “dipakai” untuk membangun energi, bukan menumpuk sebagai lemak yang kemudian menjadi awal dari masalah kesehatan. Penelitian memang menunjukkan bahwa anak dengan tingkat aktivitas rendah lebih mungkin memiliki status overweight atau obesitas dibanding anak aktif.
Lebih jauh lagi, aktivitas fisik bukan hanya soal tubuh. Aktivitas fisik membantu anak mengembangkan keterampilan sosial, bekerja dalam tim, belajar disiplin, dan merasakan kebanggaan atas tubuhnya yang kuat. Studi lain menunjukkan bahwa program aktivitas fisik juga dapat mendukung fungsi kognitif dan kemampuan belajar anak jika diintegrasikan dengan pendidikan reguler.
Semua ini menegaskan bahwa tubuh anak harus bergerak, bukan dibiarkan pasif di bangku sekolah sepanjang hari, kemudian pulang dan duduk di depan layar gadget. Screening waktu layar yang berlebihan, yang sering mengikis waktu bermain aktif anak, menjadi sangat penting di setiap keluarga dan sekolah. Aktivitas fisik itu bukan sekadar olahraga kompetitif, tetapi termasuk aktivitas sehari-hari seperti bermain kejar-kejaran, bersepeda, atau berjalan di taman. Itulah investasi kesehatan yang tidak tampak secara langsung dalam angka anggaran, tetapi sangat terlihat dalam kualitas hidup anak.
Dari sisi kebijakan nasional, sudah saatnya kita memandang kesehatan anak sebagai kombinasi dari nutrisi yang baik dan aktivitas fisik yang cukup. Anggaran pendidikan dan kesehatan harus saling melengkapi, bukan bersaing. Mendukung guru dengan insentif yang layak, menguatkan peran PJOK di sekolah, mengalokasikan dana desa untuk fasilitas olahraga yang sesuai dengan budaya lokal, semua ini adalah bagian dari narasi besar tentang generasi sehat.
Di tingkat keluarga, ayah dan ibu bisa membuat kebiasaan sederhana: jalan santai setiap pagi, bermain sepak bola di sore hari, atau menanam kebun mini bersama anak agar mereka aktif tanpa sadar. Di tingkat RT/RW, warga bisa mengadakan kegiatan rutin seperti senam pagi anak, lomba lari antar lingkungan, atau permainan tradisional yang melibatkan banyak gerak. Ini bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga membangun komunitas yang peduli kesehatan.
Sekolah punya peran sangat strategis. Dalam setiap kurikulum, kegiatan fisik harus dimaknai sebagai bagian dari pendidikan holistik, bukan sebagai “jam santai” yang sering diabaikan. Bukan hanya satu jam seminggu, tetapi diintegrasikan ke dalam rutinitas harian anak, berjalan di kelas, stretching singkat antara pelajaran, bahkan kegiatan ekstra kurikuler yang melibatkan seluruh siswa.
Desa dan pemerintah lokal bisa memanfaatkan dana desa untuk membangun fasilitas olahraga sederhana: lapangan multifungsi, lintasan lari, area permainan tradisional yang aman. Mereka bisa bekerja sama dengan pelatih lokal, bahkan orang tua yang bersertifikat, untuk membuat program yang disenangi anak.
Pada akhirnya, anak yang sehat bukan hanya yang makan dengan benar, tetapi yang hidup dengan bergerak, bermain, tertawa, dan menjelajah dunia mereka dengan tubuh yang kuat. Ketika gizi dan gerak berjalan beriringan, kita bukan hanya memberi makan anak, tetapi memberi kehidupan yang layak serta masa depan yang cerah bagi generasi berikutnya.
OUR ADDRESS
Perum Pondok Bestari Indah, Blk. B1 No.49B, Dusun Klandungan, Landungsari, Kec. Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65151
CONTACT US
WORKING HOURS
Monday - Friday
9:00 - 18:00
