Kursi Kosong yang Mendengar Percakapan
Deskripsi blog
OPINI
N.R. Fadhli
2/9/20264 min read


Sore itu, kantin pojok kampus olahraga menjadi semacam ruang terapi kolektif bagi para dosen. Di sana, kopi sachet terasa seperti espresso Italia, gorengan terasa seperti tapas Spanyol, dan keluhan akademik terasa seperti diskusi filsafat. Setelah seharian mengajar, meladeni mahasiswa, membimbing skripsi, dan menandatangani berbagai formulir yang entah siapa yang membacanya, kami berkumpul di meja kayu yang sudah penuh coretan rumus dan tanda tangan generasi akademisi sebelumnya.
Seorang teman doktor, yang siang tadi mengajar metodologi penelitian, meletakkan laptopnya dengan napas panjang. “Mahasiswa saya minta template skripsi lagi. Katanya bingung mulai dari mana.”
Dosen lain menyahut sambil menuang gula ke kopi, “Mereka maunya langsung ke hasil. Teori dianggap formalitas. Padahal tanpa teori, lapangan itu seperti hutan tanpa peta.”
Kami tertawa, tapi tawa itu punya lapisan ironi.
Di meja sebelah, seorang dosen muda sedang merapikan proposal hibah yang baru saja dikirim. Ia membaca ulang kalimat tentang prototipe teknologi olahraga yang terdengar sangat canggih. Saya bertanya, “Kalau hibah ini lolos, mahasiswa kamu dilibatkan?”
Dia mengangguk. “Iya, tapi mereka masih belum paham desain eksperimen. Jadi nanti saya kasih tugas bantu pengumpulan data dulu.”
Di titik itu, saya merasa sedang menyaksikan potret kecil ekosistem pendidikan olahraga kita: dosen sibuk mengejar hilirisasi, mahasiswa sibuk mengejar kelulusan, dan literasi riset berjalan tertatih di antara keduanya.
Padahal, jika ditarik ke hulu, literasi riset bukan hanya soal dosen dan proposal. Ia adalah soal mahasiswa—calon pelatih, guru olahraga, sport scientist, dan praktisi lapangan masa depan.
Bayangkan mahasiswa yang sejak awal dibiasakan membaca artikel ilmiah, memahami teori perkembangan motorik, mengkritisi model pembelajaran, dan menganalisis data kebugaran secara statistik. Mereka tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan di lapangan, tetapi mengapa itu harus dilakukan. Mereka tidak hanya menghafal periodisasi latihan, tetapi memahami dasar fisiologisnya. Mereka tidak hanya meniru drill latihan, tetapi mampu memodifikasi berdasarkan konteks peserta didik atau atlet.
Literasi yang kuat membuat teori tidak terasa abstrak. Teori menjadi lensa untuk membaca lapangan.
Di kantin sore itu, seorang dosen senior bercerita tentang pengalamannya mendampingi mahasiswa praktik mengajar di sekolah. “Banyak yang kreatif, tapi ketika saya tanya alasan pedagogisnya, jawabannya: ‘Karena lihat di YouTube, Pak.’”
Kami tertawa lagi. Tapi kali ini tawa itu bercampur kekhawatiran.
Tanpa literasi teoritik, praktik lapangan menjadi imitasi. Tanpa fondasi konseptual, inovasi menjadi improvisasi tanpa arah. Dalam olahraga, ini bisa berarti program latihan yang tidak evidence-based, pembelajaran yang tidak sesuai perkembangan anak, dan intervensi kebugaran yang tidak terukur dampaknya.
Ironisnya, di sisi lain, kebijakan nasional sedang mendorong hilirisasi riset. Kampus diminta menghasilkan produk, teknologi, dan inovasi yang bisa langsung digunakan masyarakat dan industri. Dosen diminta bicara tentang prototipe, paten, startup, dan teknologi siap pakai.
Namun, di level mahasiswa, banyak yang masih kesulitan membaca jurnal, memahami desain penelitian, dan menulis argumentasi ilmiah.
Ini seperti membangun stadion megah, tapi lupa melatih atletnya dari usia dini.
Jika literasi mahasiswa diperkuat sejak awal—bukan hanya literasi baca-tulis, tetapi literasi sains, metodologi, dan data—maka hilirisasi di masa depan tidak perlu dipaksakan. Ia akan tumbuh organik. Mahasiswa yang literate akan menjadi dosen yang kritis, peneliti yang jujur, pelatih yang evidence-based, dan inovator yang tidak hanya jago jargon.
Bayangkan mahasiswa olahraga yang mampu membaca data GPS tracking atlet, menganalisis workload, dan mengaitkannya dengan teori adaptasi latihan. Bayangkan guru olahraga yang memahami teori physical literacy dan mampu merancang pembelajaran yang sesuai fase perkembangan anak. Bayangkan pelatih yang tidak hanya mengandalkan intuisi, tetapi menggabungkan pengalaman lapangan dengan data longitudinal.
Di titik itu, teori dan praktik tidak lagi berjarak. Teori menjadi kompas praktik, praktik menjadi laboratorium teori.
Sore semakin turun, dan kantin mulai sepi. Seorang dosen muda berkata pelan, “Kalau mahasiswa sekarang literasinya kuat, mungkin sepuluh tahun lagi kita tidak perlu memaksa mereka hilirisasi. Mereka sendiri yang akan melakukannya.”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti tesis disertasi kebijakan pendidikan.
Penguatan literasi mahasiswa bukan pekerjaan cepat. Ia tidak bisa selesai dalam satu skema hibah atau satu periode jabatan struktural. Ia membutuhkan kurikulum yang research-based, dosen yang menjadi role model pembaca literatur, sistem evaluasi yang menghargai pemahaman konseptual, dan budaya akademik yang mendorong bertanya, bukan sekadar menjawab.
Jika itu terjadi, mahasiswa olahraga akan lebih siap secara teori, lebih reflektif secara praktik, dan lebih matang secara profesional. Mereka tidak hanya siap mengajar, melatih, dan meneliti, tetapi juga siap berinovasi tanpa harus disuruh.
Kopi di gelas kami tinggal ampas. Sore berubah menjadi senja. Kantin pojok kampus kembali menjadi ruang biasa. Tapi percakapan kecil itu terasa seperti pengingat: hilirisasi riset adalah puncak gunung, sementara literasi mahasiswa adalah kaki yang harus kuat untuk mendaki.
Dan seperti dalam olahraga, tidak ada jalan pintas untuk membangun performa. Semua dimulai dari fondasi yang sabar, repetisi yang konsisten, dan keyakinan bahwa teori yang dipahami dengan baik akan selalu menemukan jalannya di lapangan.
Sore itu, sebelum kami benar-benar bubar, seorang dosen senior mengangkat gelas kopi terakhirnya dan berkata setengah bercanda, “Kalau begitu, tugas kita bukan hanya bikin proposal hilirisasi, tapi bikin mahasiswa jatuh cinta pada teori.”
Kami tertawa, tapi kalimat itu terasa seperti manifesto kecil.
Mungkin inilah saatnya kita, sebagai dosen, peneliti, dan pengelola pendidikan olahraga, sedikit memperlambat langkah dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita sudah cukup serius membangun literasi mahasiswa, atau masih terlalu sibuk mengejar indikator yang terlihat canggih di laporan kinerja?
Ajakan ini tidak heroik, tidak revolusioner, dan tidak viral di media sosial. Tapi ia sederhana dan mungkin paling penting: mari mulai dari kelas kita sendiri. Mari biasakan mahasiswa membaca satu artikel ilmiah sebelum praktik, berdiskusi tentang teori sebelum drill, dan menulis refleksi berbasis data setelah praktik lapangan. Mari tunjukkan bahwa teori bukan beban kurikulum, tetapi alat untuk menjadi praktisi olahraga yang lebih cerdas dan bertanggung jawab.
Jika kita konsisten melakukan itu, hilirisasi tidak perlu dipaksakan dengan jargon dan TKT yang terlalu tinggi. Ia akan tumbuh alami dari mahasiswa yang literate, kritis, dan percaya diri di lapangan.
Sore itu kami meninggalkan kantin dengan langkah pelan, membawa laptop, map skripsi, dan sedikit harapan. Bahwa di balik kopi sachet dan gorengan, ada masa depan olahraga Indonesia yang bisa lebih baik—dimulai dari literasi yang kita tanam hari ini, dari kelas yang kita ajar besok pagi.
Dan seperti dalam latihan olahraga, tidak ada transformasi instan. Tapi selalu ada progres, jika kita mau memulai.
OUR ADDRESS
Perum Pondok Bestari Indah, Blk. B1 No.49B, Dusun Klandungan, Landungsari, Kec. Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65151
CONTACT US
WORKING HOURS
Monday - Friday
9:00 - 18:00
