Krisis Paradigma dan Elitisme Pengetahuan dalam Pendidikan Jasmani Indonesia: Sebuah Kajian Kritis

OPINI

6/9/2026

Ilustrasi: Listia Cindy

Pendidikan Jasmani (Penjas) di Indonesia saat ini berada dalam persimpangan historis yang menentukan antara menjadi disiplin ilmiah yang transformatif atau tetap terjebak dalam paradigma lama yang sport-centrism dan elitis. Meskipun dalam wacana akademik modern Penjas sering diposisikan sebagai ruang pendidikan holistik, realitas lapangan menunjukkan bahwa Penjas masih identik dengan olahraga kompetitif, seleksi atlet, dan pembelajaran berbasis performa fisik. Pada saat yang sama, praktik penelitian Penjas di perguruan tinggi cenderung didominasi oleh kelompok elit akademik yang menentukan arah epistemik, jenis penelitian yang dianggap sah, serta standar publikasi yang mengutamakan metrik dan performativitas. Fenomena ini menciptakan hubungan yang saling menguatkan: paradigma kuno Penjas memperkuat elitisme akademik, dan elitisme akademik memperpanjang usia paradigma kuno tersebut.

Akhir-akhir ini ketika kita melihat fenomena penelitian terutama di tataran Perguruan Tinggi yang notabene merupakan salah satu tempat riset-riset itu dilahirkan, diskursusnya selalu akan terkait dengan “Capaian dan target luaran” serta “Perang Indeksasi publikasi” dari hasil riset yang dilakukan. Setiap negara mungkin memilki kebijakan masing-masing terkait dengan hal ini tak terkecuali Indonesia. Target yang kemudian dibebankan saat suatu riset didanai tentu langsung akan terhubung pada Indeksasi, pembuatan buku, Hak Cipta, dan siaran pada media masa atau media social. Target yang tentu positif ketika kemudian dipandang sebagai upaya penyebarluasan hasil pemikiran untuk disebarluaskan kepada masyarakat dan sebagai upaya menambah khasanah ilmu pengetahuan baru yang dapat dijadikan landasan pada praktik-praktik terkait di kerangka kehidupan masyarakat. Namun, hal itu ternyata bak pisau bermata dua, selain sisi tersebut ada satu sisi lain yang tajam dan dapat mematah dahan ilmu yang sejatinya bermanfaat. Isu tentang bagaimana dapat mencapai indeksasi tertentu, sampai pada upaya mewadahi dengan cara menggadai integritas untuk meraih peringkat wadah publikasi dan kapital yang mendatangi yang menjadi ironi yang tanpa bisa dipungkiri.

D.S. Yudasmara
Penulis

Regina Aura K
Editor

Jika dikaitkan dengan teori Bordeau, Fenomena ini mengarah pada reproduksi sosial akademik: kelompok elit mempertahankan posisi dengan mengendalikan akses terhadap modal ilmiah, seperti publikasi, jaringan internasional, dan posisi struktural. Hasilnya, Penjas di kampus hanya mencerminkan sebagian kecil perspektif, dan bukan keragaman pengalaman siswa, sekolah, maupun komunitas. Poin utama yang menjadi perhatian bukan pada sebuah kesalahan jika meneliti pada ranah pengetahuan berbasis positivistik, tetapi bagamana kemudian preferensi tema penelitian yang seharusnya lebih menonjolkan “Kepenjasan” dalam posisinya sebagai sarana edukasional yang lebih metafisis serta berupaya mendorong isu ini untuk menjadi perhatian yang sama seriusnya dengan kajian-kajian positivistik tersebut.

Penjas Indonesia dan Dominasi Paradigma Kompetitif

Di lapangan, Penjas di sekolah-sekolah Indonesia hampir selalu identik dengan olahraga permainan dan kompetisi: sepak bola, basket, voli, bulutangkis, atletik. Meskipun kurikulum yang terbaru menekankan pembelajaran berbasis kompetensi, literasi gerak, dan pengalaman bermakna, implementasinya tetap berada dalam jalur lama: mengajar teknik permainan untuk pertandingan. Pendekatan multiaktivitas masih sangat dominan terjadi dalam praktiknya. Paradigma ini memang memiliki akar yang panjang. Sejarah kolonial yang memperkenalkan olahraga modern sebagai alat disiplin tubuh, modernisasi pendidikan yang mengglorifikasi performa fisik, serta warisan budaya sekolah yang menilai Penjas berdasarkan hasil pertandingan antar kelas atau antar sekolah. Guru akan bersemangat ketika ada murid yang berbakat olahraga dan dapat bertanding pada even olimpiade olahraga antar sekolah, tetapi seakan-akan lupa bahwa ada murid-murid lain yang butuh Pendidikan untuk menjadi bugar dan secara sadar terlibat penuh pada aktifitas fisik sepanjang hayatnya untuk bernegosiasi dengan tantangan kehidupannya di masa mendatang.

Konsekuensi dari paradigma ini sangat signifikan sehingga cenderung akan berimplikasi pada Penjas direduksi menjadi pelatihan atlet, bukan pendidikan, Siswa atletis menjadi penerima utama perhatian, sedangkan siswa dengan kemampuan rendah, berbadan besar, pemula, atau memiliki disabilitas menjadi termarginalkan, Penjas kehilangan fungsinya sebagai ruang pembelajaran tubuh yang inklusif, tempat siswa belajar tentang kesehatan, sosial-emosional, literasi gerak, dan keselamatan tubuh, Guru Penjas pun terjebak dalam peran “pelatih olahraga”, bukan pendidik jasmani. Paradigma kompetitif ini melahirkan bias epistemic dimana penelitian dan publikasi Penjas pun akhirnya lebih fokus pada peningkatan performa atletik, teknik permainan, atau variabel fisiologis karena itulah yang dianggap “natural” dalam definisi Penjas. Kemudian filosofi yang berkembang setelah era kemerdekaan dimana istilah “Memasyarakatkan olahraga dan Mengolahragakan masyarakat” dipahami sebagai upaya pelibatan murid kedalam olahraga yang sifatnya kompetitif. Padahal, dunia Penjas modern telah bergerak ke arah literasi gerak (physical literacy), sport education model (SEM), model pembelajaran berbasis komunitas, dan pembelajaran sosial-emosional.

Dalam dua dekade terakhir, pendidikan tinggi di Indonesia, termasuk program studi Pendidikan Jasmani, mengalami perubahan drastis yang dipengaruhi oleh logika neoliberalisme akademik. Perguruan tinggi berlomba-lomba meningkatkan jumlah publikasi, sitasi, indeks h-index, dan capaian akreditasi yang mayoritas berbasis metrik. Peter Fleming (2021) menyebut fenomena ini sebagai academic star-complex, di mana sebagian kecil akademisi menjadi figur dominan yang menguasai arah penelitian—sementara mayoritas lainnya terjebak dalam budaya publikasi yang repetitif dan tidak transformatif. Dalam konteks Penjas, elitisme ini tampak dalam beberapa bentuk:

  1. Dominasi penelitian berbasis sport science dan biomekanik, yang lebih mudah dipublikasikan dan sesuai dengan standar jurnal internasional.

  2. Minimnya penelitian pedagogik, humanistik, fenomenologis, atau kritis, karena dianggap kurang “ilmiah” atau sulit masuk jurnal bereputasi.

  3. Lemahnya suara guru Penjas dan praktisi lapangan, yang sebenarnya memahami konteks sosial peserta didik lebih baik daripada akademisi kampus.

  4. Hegemoni epistemik dari akademisi yang menentukan apa yang sah untuk diteliti, membentuk “kebenaran” Penjas sebagai domain eksklusif para ahli tertentu.

Interaksi antara Elitisme Akademik dan Paradigma Kompetitif

Kedua fenomena ini bukanlah gejala yang berdiri sendiri. Mereka saling menguatkan dalam siklus yang kompleks. Elitisme akademik yang mendorong publikasi kuantitatif memperkuat paradigma kompetitif di lapangan, karena penelitian biomekanik dan peningkatan performa fisik jauh lebih “menguntungkan” bagi publikasi jurnal dibandingkan penelitian kualitatif kritis tentang pengalaman siswa atau pedagogi reflektif. Sebaliknya, paradigma Penjas yang sport-centrism menciptakan permintaan pada penelitian yang mendukung legitimasi paradigma tersebut sehingga akademisi yang ingin naik pangkat atau memperoleh hibah penelitian pun memilih penelitian-penelitian “aman” yang sejalan dengan paradigma dominan. Dengan demikian, terjadi loop epistemic” yang menutup ruang inovasi dimana mengakibatkan: Paradigma dominan menentukan jenis penelitian yang dianggap valid, penelitian dominan memperkuat paradigma, paradigma yang kuat menghasilkan elitisme penelitian baru. Inilah yang kemudian disoroti oleh Fleming sebagai “kematian universitas” bukan runtuh secara fisik, melainkan hilangnya fungsi kritis institusi pendidikan. Dalam konteks Penjas, kita menyaksikan kematian paradigmatik”: pendidikan jasmani kehilangan jati dirinya sebagai pendidikan.

Dampak Sosial: Ketidakadilan Tubuh dan Krisis Makna

Dampak paling nyata dari kondisi tersebut adalah ketidakadilan tubuh (physical inequality). Siswa yang tidak atletis, yang pemalu, yang memiliki disabilitas, atau tubuh besar, sering merasa bahwa Penjas bukan ruang mereka. Penjas menjadi ruang eksklusif bagi tubuh-tubuh “unggul”. Hal ini tidak hanya berdampak pada perkembangan fisik, tetapi juga tentang harga diri, rasa aman, motivasi gerak dan partisipasinya dalam aktifitas fisik sepanjang hayat. Lebih jauh lagi, Penjas yang kompetitif justru berkontribusi terhadap budaya tidak aktif (sedentary), karena banyak siswa “trauma” terhadap pengalaman negatif di Penjas. Alih-alih membangun hubungan sehat dengan aktivitas fisik, banyak siswa kehilangan minat karena merasa tidak diakui. Selain itu, Penjas kehilangan fungsi filosofisnya sebagai ruang kesadaran tubuh (embodiment) yang dikemukakan oleh Maurice Merleau-Ponty. Padahal tubuh adalah medium utama siswa memahami dunia, mengembangkan identitas, dan mengeksplorasi relasi sosial. Jika Penjas hanya mengajarkan “passing” dan “dribbling”, maka dimensi eksistensial tubuh tidak pernah disentuh.

Krisis Keahlian dan Gagasan Tom Nichols Tentang Kepakaran Yang Mati

Tom Nichols (2017) menyoroti bahwa masyarakat modern mengalami krisis penghormatan terhadap keahlian (the death of expertise). Dalam konteks Penjas, krisis ini juga terjadi: masyarakat dan sekolah sering menyamakan guru Penjas dengan pelatih olahraga, atau bahkan dengan penjaga lapangan. Yang lebih membuat telinga terasa sakit adalah bahwa Penjas adalah pelajaran “refreshing” dari matematika, fisika dan ilmu empiris yang lain. Selain itu kuliah di Penjas adalah kuliah santai yang pekerjaannya hanya berlari, melompat, melempar dan menangkap seperti tugas perkembangan gerak anak kecil. Hal itu karena penjas dianggap sebagai sesuatu yang gampang dan anggapan kegampangan itu bisa jadi muncul dari kita sendiri yang mencitrakan. Padahal Penjas adalah disiplin ilmiah dengan kompetensi pedagogik, fisiologis, psikologis, dan sosial.

Namun di sisi lain, elitisme akademik yang sempit yang hanya mengakui penelitian tertentu sebagai “ilmiah” justru memperburuk krisis keahlian itu. Keahlian guru lapangan, pengetahuan lokal, perspektif pengalaman, atau pendekatan humanistik tidak dianggap sebagai “keahlian”. Akibatnya, masyarakat tidak melihat guru Penjas sebagai aktor pedagogik penting. Nichols menyebut fenomena ini sebagai paradoks modern yang berimplikasi pada ahli nyata tidak dihormati, elit sempit justru mendominasi wacana, publik menjadi bingung tentang apa itu ahli dan dalam Penjas Paradoks ini berlaku sangat sempurna.

Kerangka Teoritis Untuk Menganalisis Krisis Penjas

Beragam teori kritis dapat digunakan untuk menjelaskan krisis yang terjadi dalam Pendidikan Jasmani (Penjas). Pertama, melalui perspektif Teori Reproduksi Sosial Bourdieu, Penjas beroperasi sebagai arena yang mereproduksi hierarki sosial berbasis tubuh, di mana habitus atletis bernilai tinggi dan mendapatkan legitimasi, sedangkan habitus non-atletis diposisikan rendah sehingga menciptakan kesenjangan simbolik dan psikososial di antara peserta didik. Kedua, Teori Performatif Neoliberal sebagaimana dikemukakan Ball, Apple, Giroux dan Ponty menunjukkan bahwa Penjas telah menjadi komoditas performa, mengglorifikasi kecepatan, kekuatan, kemenangan sebagai standar utama, dan Gerak bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi pengalaman hidup. Penjas harus memfasilitasi siswa merasakan, memahami, dan menafsirkan tubuh mereka. Bukan hanya “menggerakkan tubuh” tetapi “mengalami tubuh”;

Selama ini target capaian angka dan peringkat sangat mewarnai Penjas. Orientasi ini selaras dengan budaya neoliberalisme yang menjadikan kompetisi sebagai norma serta mengukur kualitas pendidikan melalui capaian-indikator performa yang sempit. Ketiga, Pedagogi Kritis sesungguhnya menawarkan arah pembaruan, yaitu menjadikan Penjas sebagai ruang pembebasan tubuh, arena untuk mengkritisi normalitas fisik, mendekonstruksi standar performa, serta menumbuhkan kesadaran sosial peserta didik. Namun dalam praktiknya, Penjas di Indonesia belum bergerak menuju orientasi pedagogi kritis tersebut; sebaliknya masih kuat terjebak pada logika performatif, kompetitif, dan eksklusioner, sehingga tujuan pembentukan manusia yang merdeka, reflektif, dan berkesadaran sosial belum sepenuhnya terwujud.

Jalan Keluar: Reformasi Paradigma dan Demokratisasi Pengetahuan

Jalan keluar dari krisis Pendidikan Jasmani (Penjas) di Indonesia memerlukan reformasi paradigma dan demokratisasi pengetahuan melalui perubahan struktural dan epistemik yang mendalam. Upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan dekolonisasi Penjas dengan menggeser paradigma sport-centrism menuju budaya gerak, literasi gerak, dan pembelajaran berbasis pengalaman tubuh sehingga Penjas tidak lagi terkurung dalam orientasi olahraga prestasi semata. Berikutnya, perlu dilakukan demokratisasi penelitian Penjas dengan mengakui validitas penelitian kualitatif, naratif, partisipatoris, dan pedagogik; melibatkan guru sebagai peneliti (teacher-as-researcher); serta menghargai pengetahuan lokal dan praktik komunitas sebagai sumber epistemik setara. Upaya redefinisi keahlian Penjas harus dilakukan dengan menegaskan bahwa kompetensi pendidik jasmani tidak hanya pada sport coaching, tetapi juga pedagogik tubuh, perkembangan motorik, kesehatan masyarakat, psikologi gerak, inklusivitas, dan pedagogi kritis. Kurikulum Penjas perlu direformasi agar berfokus pada literasi gerak, kemampuan sosial-emosional, aktivitas fisik sepanjang hayat, pengalaman gerak yang bermakna, dan inklusi semua jenis tubuh tanpa diskriminasi. Arah penelitian perguruan tinggi perlu diarahkan kembali dari dominasi performa olahraga menuju kajian pedagogi kritis Penjas, literasi gerak, kebermaknaan gerak, filosofi tubuh, pengalaman siswa, desain pembelajaran humanistik, hingga kesehatan masyarakat berbasis sekolah. Selanjutnya, penguatan identitas pendidik jasmani harus dilakukan dengan menampilkan guru Penjas sebagai pedagoog tubuh, fasilitator pengalaman gerak, perancang aktivitas inklusif, agen kesehatan publik, dan pemikir kritis. Seluruh langkah ini merupakan strategi kunci untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi pendidik jasmani sekaligus menegaskan kembali relevansi Penjas dalam pembangunan manusia yang sehat, reflektif, inklusif, dan berdaya.

Penelitian Tanehill dkk dan Kritik Terhadap Kurikulum Penjas Saat ini di Indonesia

Kurikulum Penjas yang berhasil bukan bergantung pada dokumen tertulis, tetapi pada interpretasi guru, keyakinan pedagogis, dukungan institusi, dan konteks sosial sekolah. Implementasi kurikulum yang bermakna hanya terjadi ketika guru memahami filosofi kurikulum, memiliki ruang untuk mengambil keputusan, serta mampu mengadaptasi pembelajaran ke kebutuhan siswa. Kurikulum Penjas Indonesia secara formal menekankan perkembangan holistik, namun implementasi masih didominasi oleh paradigma olahraga kompetitif. Penyebabnya mungkin kita tidak dilatih dan tidak diberi ruang untuk memahami filosofi Penjas, Budaya sekolah dan masyarakat menuntut pertandingan, bukan Pendidikan, Perguruan tinggi yang memiliki departemen Penjas tidak memproduksi guru yang curriculum-literate tetapi coach-literate. Maka masalahnya bukan di kurikulum, melainkan di struktur pedagogi dan identitas profesi guru.

Pengembangan Profesional Berkelanjutan atau Continuing Professional Development (CPD) bagi guru Pendidikan Jasmani memerlukan pendekatan yang jauh lebih substantif daripada pola pelatihan administratif yang selama ini dominan. Tannehill dan kolega menunjukkan bahwa CPD yang efektif bersifat berkelanjutan, berbasis kebutuhan profesional guru, partisipatoris, dan mampu menjembatani riset dengan praktik pembelajaran sehari-hari. Namun di Indonesia, CPD guru Penjas umumnya berlangsung secara satu arah melalui pelatihan berbentuk ceramah, belum berbasis penelitian sekolah, lebih diarahkan untuk pemenuhan angka kredit daripada transformasi pedagogi, dan tidak menyediakan model nyata bagaimana mengajar Penjas secara holistik dan inklusif. Masalah ini semakin diperburuk oleh elitisme akademik, di mana universitas lebih terfokus pada publikasi daripada pengabdian bermakna atau pendampingan profesional bagi guru; akibatnya pengetahuan riset mengalir ke jurnal ilmiah tetapi jarang turun ke sekolah sebagai praktik pembelajaran. Keterputusan antara riset dan praktik ini bukan karena guru Penjas anti terhadap pengetahuan, melainkan karena mereka tidak pernah ditempatkan sebagai bagian dari proses produksi pengetahuan. Selama guru hanya diperlakukan sebagai konsumen, bukan produsen pengetahuan pedagogik, maka CPD tidak akan pernah menjadi mekanisme pemberdayaan profesional, melainkan sekadar ritual administratif tanpa dampak transformasional.

Engagement Murid dalam Penjas

Tannehill dan kolega menegaskan bahwa keterlibatan murid dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas) hanya dapat terwujud ketika pengalaman belajar relevan dengan kehidupan peserta didik, inklusif terhadap semua kemampuan tubuh, memberikan ruang pilihan dan otonomi, serta menghargai pengalaman gerak alih-alih menjadikan performa kompetitif sebagai pusat evaluasi. Namun dalam konteks Indonesia, engagement murid cenderung hanya muncul pada kelompok siswa atletis, sementara murid non-atletis atau yang memiliki tubuh “berbeda” kerap merasa takut dinilai, merasa bukan bagian dari komunitas olahraga, dan mengalami pengalaman Penjas yang memalukan, mengecilkan, bahkan traumatis. Apabila engagement murid diposisikan sebagai indikator mutu Penjas maka rendahnya mutu Penjas di Indonesia tidak terutama disebabkan kurangnya fasilitas atau sarana olahraga, tetapi karena rancangan pengalaman geraknya keliru, lebih menonjolkan kompetisi dan seleksi daripada kebermaknaan dan keberagaman pengalaman gerak. Hal ini meruntuhkan paradigma lama bahwa Penjas sekadar persoalan pemetaan keterampilan fisik; sebaliknya, ia merupakan persoalan desain pengalaman belajar yang berpusat pada tubuh, makna, dan kemanusiaan peserta didik. Assessment Penjas seharusnya menilai tentang proses belajar, literasi gerak, partisipasi aktif, refleksi diri dan kemajuan personal bukan kemampuan kompetitif atau hasil pertandingan. Perlu menggeser paradigma tentang Penilaian masih berbasis performa teknik olahraga sehingga bias terhadap siswa atletis, asesmen tidak memotret perkembangan afektif, sosial, kognitif, dan self-efficacy, Praktik asesmen tidak memperkuat tujuan kurikulum, tetapi memperkuat sport-centrism, sehingga kecenderungan yang berlaku adalah Assessment menjadi alat reproduksi ketidakadilan tubuh, bukan instrumen pembelajaran.

Arah Kajian Kritis & Rekomendasi Teoritis

Pendidikan Jasmani Indonesia tidak gagal di kurikulum, tetapi gagal di epistemologi: pengetahuan didominasi oleh paradigma sport-centrism elitis, sehingga CPD, engagement murid, dan assessment tidak pernah selaras dengan tujuan pendidikan jasmani modern. Transformasinya harus berlandaskan pada:

Krisis Pendidikan Jasmani bukanlah masalah kualitas siswa, melainkan krisis struktur di mana paradigma olahraga kompetitif diperkuat oleh elitisme akademik sehingga praksis Penjas tidak pernah menjadi pendidikan. Penjas tidak perlu dibenahi secara teknis, tetapi secara epistemik dan ideologis. hancurkan mitos Penjas yang masih bernuansa olahraga kompetitif dan bangun Penjas menjadi pendidikan dan pemaknaan tubuh manusia sepanjang hayat.

Krisis Pendidikan Jasmani di Indonesia bukan sekadar masalah teknis atau administratif, tetapi krisis ideologis, epistemologis, dan paradigmatik. Penjas yang masih dikuasai paradigma sport-centrism gagal memenuhi fungsi utamanya sebagai pendidikan, sementara elitisme penelitian memperpanjang umur paradigma tersebut dengan menutup ruang bagi pendekatan kritis, pedagogik, dan humanistik. Sebagaimana digambarkan oleh Fleming, universitas telah kehilangan fungsi kritisnya ketika tunduk pada metrik dan hierarki elit; dan seperti dijelaskan Nichols, masyarakat kehilangan kemampuan untuk menghargai keahlian sejati ketika hanya segelintir elit epistemik menentukan apa yang dianggap “pengetahuan sah”. Untuk mengembalikan Penjas pada jati dirinya sebagai pendidikan berbasis gerak manusia, diperlukan reformasi paradigmatik melalui dekolonisasi Penjas, demokratisasi penelitian, redefinisi keahlian, dan penguatan pedagogi tubuh. Tanpa itu semua, Penjas akan tetap terjebak dalam lingkaran lama menjadi ruang seleksi atlet, bukan ruang pembebasan tubuh dan perkembangan manusia yang komprehensif.

Listia Cindy A
Layouter

OUR ADDRESS

Perum Pondok Bestari Indah, Blk. B1 No.49B, Dusun Klandungan, Landungsari, Kec. Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65151

WORKING HOURS

Monday - Friday
9:00 - 18:00