Ketika Publikasi Lebih Bugar dari pada Mahasiswanya

Deskripsi blog

OPINI

N.R. Fadhli

12/22/20253 min read

Ledakan publikasi ilmiah Indonesia, khususnya bidang olahraga dalam satu dekade terakhir tampak seperti kabar kemajuan yang membanggakan, iya, sangat membanggakan khusus untuk yang tahu saja, msayarakat bawah ga ngerti apa2 tentang publikasi. Setiap minggu ada saja seminar baru, setiap bulan ada ratusan artikel terbit, dan dashboard SINTA seolah berlomba menampilkan grafik yang terus naik. Namun di tengah gegap gempita itu, kenyataan lapangan justru menunjukkan ironi yang sulit disembunyikan: prestasi olahraga tidak melonjak setinggi grafik publikasi, tingkat kebugaran anak-anak Indonesia justru stagnan, bahkan merosot menurut survei nasional. Anehnya lagi, jumlah profesor olahraga tumbuh pesat di universitas-universitas besar, tetapi anak-anak tetap tidak mampu berlari 1,2 km tanpa terengah-engah. Apa guna gelar profesor olahraga jika generasi mudanya semakin tidak bugar? Yang jelas untuk feed IG branding diri lah.

Di kampus, paradoks ini semakin mencolok ketika kita melihat betapa cepat dan mudahnya publikasi dibuat, terutama sejak hadirnya teknologi AI berbasis Generate-Refine-Assist (GRA), baru tahu setelah ada teman dosen yang sedang studi doktoral menggilainya. sebuah pola kerja yang memungkinkan dosen menghasilkan draft penelitian dengan ritme yang lebih cepat dari kemampuan mereka untuk sekadar menjejakkan kaki ke lapangan. Dengan GRA, paragraf “generate” mengalir mulus, bagian “refine” membuatnya akademis, dan bagian “assist” menghubungkannya dengan referensi seolah-olah riset itu lahir dari proses panjang, bukan dari 20 menit di depan laptop, dan bim salabim, prok prok prok jadi apa?.

AI tidak salah. Platform seperti GRA justru menunjukkan efisiensi luar biasa. Yang salah adalah ketika teknologi ini jatuh ke tangan dosen yang menjadikan publikasi sebagai komoditas administratif, bukan pengetahuan hidup. Dosen tidak lagi bergulat dengan data lapangan, keringat penelitian, atau proses refleksi mendalam. Yang tersisa hanyalah ritual mengetik prompt, menekan generate, memperhalus grammar, menempel daftar pustaka, lalu mengirim ke jurnal, bagaikan menjalankan mesin produksi artikel. Sementara itu, program pembinaan kebugaran anak, model latihan baru, atau metode pembelajaran PJOK yang mereka tulis, tidak pernah dipraktikkan di kelas, apalagi di masyarakat.

Fenomena ini mengingatkan kita pada kaum Sofis di Yunani Kuno, (aku sengaja semalam membuka lagi buku “kaum sofis” yang sudah jamuren di rak), para pengajar yang menguasai retorika tetapi tidak peduli kebenaran. Sofis modern di kampus tidak lagi mengandalkan retorika lisan, melainkan retorika digital yang dipoles oleh GRA. Artikel yang dihasilkan tampak rapi, elegan, dan meyakinkan, persis seperti argumen Sofistik yang memukau tetapi kosong. Di tangan mereka, GRA berubah menjadi mesin pengganda wacana, bukan pengganda pengetahuan. Riset tidak berfungsi sebagai alat perubahan, tetapi sebagai tiket poin kredit. Itu tidak salah, kurang pas saja sih. Apalagi kalau pas ketemu masyarakat di panggil pak doktor, bu doktor, apa ga rai gedek itu?

Lebih mudah bagi seorang dosen menggunakan GRA untuk menyelesaikan abstrak dan hasil penelitian dalam hitungan menit dibandingkan melatih sepuluh anak melakukan shuttle run dengan teknik yang benar. Lebih cepat bagi mereka menyempurnakan “discussion” berisi kata-kata akademik yang tampak mendalam, dibandingkan menyempurnakan metode pengajaran PJOK mereka sendiri di kelas. Lebih nyaman memproduksi lima artikel setahun melalui optimalisasi alur kerja AI dibandingkan menjalankan satu program pengabdian berbasis bukti di sekolah sekitar kampus.

Saat ini, banyak artikel akademik berseliweran tentang kebugaran anak Indonesia, metode latihan inovatif, atau pendekatan pedagogis baru. Namun tidak banyak yang bisa menjawab pertanyaan paling mendasar: apakah artikel itu pernah diuji, diajarkan, atau diterapkan? Apakah “model latihan berbasis hybrid agility” pernah digunakan oleh satu pun klub sekolah? Apakah “framework kebugaran motorik berbasis kompetensi” pernah muncul di ruang kelas? Atau apakah “intervensi aktivitas fisik berbasis komunitas” pernah menyentuh satu pun RT di sekitar kampus? Banyak yang tidak bisa menjawab. Karena artikel itu tidak lahir dari kenyataan, dan tidak kembali ke kenyataan.

Jika publikasi bisa dibuat tanpa harus turun ke lapangan, maka publikasi juga akan berakhir tanpa kembali ke lapangan. Inilah logika senyap yang menuntun kita menuju generasi akademisi yang lebih sibuk dengan generate daripada gerak, lebih fokus pada refine daripada refleksi, dan lebih mementingkan assist daripada aplikasi. Seolah-olah kualitas penelitian diukur dari seberapa bersih kalimatnya, bukan seberapa nyata dampaknya.

Bayangkan betapa Socrates akan kebingungan dan godek-godek jika melihat keadaan ini. Ia yang menolak menulis buku demi menjaga kejujuran dialogis, kini akan melihat para akademisi menulis terlalu banyak tanpa dialog apa pun, baik dialog dengan masyarakat, anak-anak, atlet, maupun ruang kelas. Mungkin Socrates akan bertanya: “Jika ilmu tidak mengubah hidupmu, bagaimana ia bisa mengubah hidup orang lain?” Dan kampus akan menjawab dengan data sitasi.

Pada akhirnya, fenomena GRA bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan cermin budaya akademik yang semakin Sofistik. Publikasi tanpa implementasi adalah pengetahuan yang mandul. AI mempercepat proses menulis, tetapi juga mempercepat transparansi kelemahan kita: bahwa terlalu sedikit riset yang benar-benar berasal dari lapangan, dan terlalu banyak yang hanya lahir dari layar.

Selama artikel ilmiah lebih cepat dibuat daripada ilmu itu sendiri dipraktikkan, kita akan terus memiliki generasi profesor yang kaya teori tetapi miskin gerak, serta generasi anak yang miskin kebugaran tetapi kaya menjadi objek penelitian.

Dan selama GRA digunakan untuk memperindah tulisan, bukan memperdalam tindakan, maka ilmu kita akan semakin pandai berbicara… tapi semakin malas bergerak.