Kami Tidak Takut Olahraga, Kami Takut Ditertawakan

ESAI NARATIF

5/18/2026

Ilustrasi: R.M. Rusdiyanto

Ada sesuatu yang diam-diam hilang dari banyak pelajaran PJOK di sekolah: kehadiran guru sebagai pendidik. Secara fisik, guru memang ada di lapangan. Berdiri membawa peluit, memberi instruksi, menghitung putaran lari, bahkan terkadang berteriak paling keras di antara suara siswa. Namun secara emosional, banyak siswa merasa gurunya tidak benar-benar hadir. Mereka hadir sebagai pengawas aktivitas, tetapi absen sebagai manusia yang memahami rasa takut, rasa malu, dan rasa tidak percaya diri yang dialami siswanya sendiri. Dan mungkin inilah salah satu ironi terbesar dalam pendidikan jasmani di sekolah—pelajaran yang seharusnya membangun kesehatan mental dan fisik justru sering meninggalkan luka psikologis yang bertahan lama.

Di banyak sekolah, lapangan olahraga perlahan berubah menjadi ruang penghakiman sosial. Siswa yang tidak bisa bermain bola ditertawakan, yang tubuhnya gemuk dijadikan bahan candaan, yang larinya lambat dipermalukan di depan teman-temannya, yang tidak atletis dianggap malas, lemah, atau tidak punya mental. Kadang semua itu terjadi terang-terangan. Kadang dibungkus atas nama “candaan”, “motivasi”, atau “pembentukan mental”.

“Makanya olahraga.”

“Masa cowok larinya begitu?”

“Badannya gede tapi lemah.”

“Cengeng banget.”

“Mental kamu payah.”

Kalimat-kalimat seperti ini terdengar biasa di banyak lapangan sekolah Indonesia. Terlalu biasa sampai akhirnya dianggap normal. Padahal yang sedang dinormalisasi bukan disiplin, melainkan penghinaan. Dan yang lebih menyakitkan, penghinaan itu sering kali mendapatkan legitimasi langsung dari guru.

R.M. Rusdiyanto
Penulis

Galih Purnomo Aji
Editor

Namun, dalam banyak praktik pembelajaran, kelemahan justru dipertontonkan, bukan dipahami. Lapangan sekolah akhirnya berubah menjadi arena hierarki sosial yang kasar. Yang atletis dipuji terus-menerus, sedangkan yang lemah dijadikan hiburan di kelas. Anak yang jago futsal dianggap keren meski merendahkan teman-temannya. Sebaliknya, siswa yang pendiam atau tidak mahir olahraga perlahan kehilangan ruang untuk merasa dihargai. PJOK yang seharusnya mengajarkan sportivitas justru tanpa sadar mewariskan budaya mempermalukan.

Masalah terbesar sebenarnya bukan pada olahraga. Bukan pada disiplin. Dan bukan pula pada tuntutan fisik dalam pembelajaran. Masalah utamanya adalah ketidakhadiran guru dalam menghadirkan rasa aman. Banyak guru mengajarkan gerakan, tetapi lupa membangun keberanian. Banyak guru melatih fisik, tetapi gagal menjaga mental siswa. Banyak guru hadir memberi instruksi, tetapi absen dalam empati. Padahal sebelum siswa mampu belajar teknik olahraga, mereka terlebih dahulu ingin merasa“Saya aman di sini.”

Sayangnya, rasa aman itu sering menjadi barang mewah di ruang pembelajaran. Sekolah terlalu sering memuja hasil sampai lupa menghormati proses. Yang sudah bisa dipuji, yang belum mampu dipermalukan. Padahal “belum bisa” adalah bagian paling manusiawi dalam belajar. Tidak ada manusia yang lahir langsung pandai bermain bola. Tidak ada anak yang langsung percaya diri berlari di depan banyak orang. Semua kemampuan besar dulunya adalah kecanggungan yang diberi kesempatan untuk tumbuh. Namun pendidikan kita sering terlalu tidak sabar terhadap proses. Kesalahan diumumkan ramai-ramai, kegagalan dijadikan tontonan, dan rasa malu dipertontonkan seperti hiburan kelas.

Akibatnya, banyak siswa belajar satu hal yang menyakitkan: “bahwa sekolah lebih cepat menghakimi daripada memahami”. Mereka akhirnya memilih diam, dan bukan juga karena tidak punya potensi, tetapi karena takut dipermalukan saat mencoba. Dan di situlah pendidikan kehilangan jiwanya. Sebab hak belajar bukan sekadar hak untuk hadir di kelas.

Hak belajar adalah hak untuk salah tanpa kehilangan martabat.

Hak untuk lambat tanpa dicemooh.

Hak untuk mencoba tanpa ditertawakan.

Hak untuk berkembang tanpa terus dibandingkan.

Karena sejatinya, pendidikan bukan tentang mencari siapa yang paling unggul. Pendidikan adalah memastikan tidak ada manusia yang kehilangan harga dirinya selama proses belajar. Guru PJOK yang baik bukan yang paling keras suaranya di lapangan, bukan yang paling melengking peluitnya di lapangan, dan bukan pula yang paling ditakuti oleh siswanya.

Melainkan guru yang mampu membuat siswa merasa aman untuk mencoba. Guru yang mampu mengatakan, secara sadar ataupun tidak, “Hari ini kamu belum bisa. Tetapi kamu tetap punya hak untuk belajar.” Sebab tidak semua anak akan menjadi atlet. Namun, semua anak berhak merasa dihargai saat belajar. Dan ketika sekolah gagal menghadirkan rasa aman itu, yang lahir bukan pendidikan. “Melainkan trauma yang dibungkus seragam olahraga, disuruh berbaris rapi, lalu disebut sebagai proses pembentukan karakter”.

Ketika guru menertawakan seorang siswa, seluruh kelas menerima pesan tidak tertulis: “Berarti tidak apa-apa menghina dia.” Sejak saat itu, bullying menemukan panggungnya sendiri.

Bagi sebagian siswa, jam PJOK bukan waktu yang menyenangkan. Ia menjadi jam paling menegangkan dalam satu minggu pembelajaran. Ada yang pura-pura sakit supaya tidak ikut, ada yang sengaja meminta izin ke UKS, dan ada juga yang membawa seragam olahraga dengan rasa cemas yang tidak pernah dipahami siapa pun.

Bukan karena mereka malas bergerak. Tetapi karena mereka takut dipermalukan, takut gagal menangkap bola lalu ditertawakan satu kelas, takut tubuh mereka dibandingkan, dan takut menjadi bahan ejekan karena tidak seathletis teman-teman lainnya.

Ironisnya, banyak guru PJOK terlalu sibuk melihat performa fisik siswa sampai lupa melihat kondisi mental mereka. Padahal tidak semua anak lahir dengan koordinasi tubuh yang baik. Tidak semua siswa percaya diri tampil di lapangan terbuka. Tidak semua anak nyaman menjadi pusat perhatian.