Fondasi Masa Depan Ada di Gerakan Anak Hari Ini

ESAI NARATIF

N.R. Fadhli

9/24/20254 min read

Suatu pagi menjelang matahari naik di sebuah sekolah taman kanak-kanak di pinggiran Jawa Tengah, suasana desa terasa begitu nyata. Aroma tanah kering berpadu dengan hembusan angin di antara pohon jati yang gersang, menciptakan nuansa pagi yang khas. Dari jendela kelas, tampak anak-anak duduk rapi di kursi-kursi kecil, masing-masing memegang buku latihan. Mereka berusaha mengeja huruf dan menuliskan angka dengan tangan mungilnya. Beberapa anak terlihat gelisah, sesekali menggerakkan kaki atau menoleh ke arah luar jendela, seolah tubuh mereka ingin bebas berlari dan bermain, tetapi aturan kelas menahan keinginan itu. Di halaman sekolah, sebuah ayunan berdiri kaku, tertutup debu, seperti menunggu tangan-tangan kecil yang sudah lama tak mengayuninya.

Dari ruang sebelah terdengar suara riuh. Anak-anak kelas yang lebih tinggi, TK 0 besar mereka menyebutnya, sedang mengikuti kuis tebak-tebakan penjumlahan dan pengurangan angka sederhana. Dengan semangat, mereka berteriak menjawab secara bersamaan, seolah sedang berada dalam sebuah lomba cepat-tepat. Suasananya tampak meriah, penuh sorakan dan gelak tawa, tetapi jika diperhatikan lebih dalam, praktik tersebut terasa keluar dari esensi pendidikan anak usia dini yang semestinya menekankan keceriaan, eksplorasi, dan permainan bermakna.

Saya berbincang dengan seorang guru yang mendampingi. Dengan nada datar namun penuh makna, ia berkata, “Orang tua di sini lebih senang kalau anak bisa cepat calistung. Mereka bangga jika anak-anak mampu membaca, menulis, dan berhitung lebih awal". Ia menambahkan, anak-anak itu kebanyakan berasal dari keluarga cukup mampu di kecamatan ini, orang tuanya berharap kelak mereka bisa masuk sekolah dasar swasta terbaik di kabupaten. Harapan orang tua yang besar sering kali membuat masa kanak-kanak kehilangan warna bermainnya. Pagi itu, sekolah kecil di pinggiran Jawa Tengah menjadi potret nyata pergeseran nilai: antara belajar demi prestasi dan hak anak untuk tumbuh dengan riang.

Pernyataan itu bukan sekali dua kali saya dengar. Saat melakukan penelitian di Jawa Timur, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat yang barusan selesai bulan lalu, gambaran yang sama terulang. Guru-guru lebih menekankan keterampilan membaca, menulis, dan berhitung, sementara literasi fisik, kemampuan anak untuk percaya diri bergerak, memahami tubuhnya, dan aktif secara jasmani, hampir tak tersentuh. Bahkan, tidak ada indikator motorik dan fisik dalam rapor siswa. Fenomena ini seakan mengonfirmasi bahwa pendidikan kita masih memandang keberhasilan anak semata dari kecerdasan akademik, bukan dari perkembangan holistik.

Padahal, kalau mau buka HP lebih cerdas sedikit, dunia internasional sudah melangkah lebih jauh. UNESCO menegaskan pentingnya Education for All dan Holistic Development di PAUD, yang berarti anak harus tumbuh seimbang antara kognitif, sosial-emosional, motorik, dan nilai budaya (UNESCO, 2019). UNICEF mengingatkan soal hak anak atas stimulasi menyeluruh, termasuk aktivitas jasmani yang adil bagi semua anak. OECD, dalam laporan Starting Strong, bahkan menekankan school readiness tidak hanya soal huruf dan angka, tetapi juga kemampuan sosial, regulasi diri, dan kesehatan fisik (OECD, 2020). Sementara SDGs, terutama target 4.2, menegaskan bahwa pada 2030 setiap anak berhak mendapat pendidikan prasekolah berkualitas yang mencakup kesiapan belajar secara menyeluruh, termasuk literasi fisik (UN, 2015).

Lalu, bagaimana literasi fisik dipandang dalam tren kurikulum global? School readiness kini tidak lagi dimaknai sempit sebagai kesiapan akademik, tetapi juga kesiapan fisik dan mental. Play-based learning mendorong anak belajar melalui bermain aktif, karena dari sanalah kreativitas, regulasi diri, dan kepercayaan diri tumbuh. Sedangkan competency-based curriculum (CBC) menempatkan literasi fisik sejajar dengan literasi bahasa dan numerasi anak bukan hanya “bisa bergerak”, melainkan juga memahami, menghargai, dan memanfaatkan gerak sebagai bagian gaya hidup sehat (Whitehead, 2019).

Ironisnya, di Indonesia literasi fisik justru dipandang sebelah mata. Padahal, riset menunjukkan bahwa anak dengan keterampilan motorik baik lebih siap fokus belajar, lebih mampu mengendalikan emosi, dan lebih mudah bersosialisasi (Robinson et al., 2015). Dengan kata lain, literasi fisik bukanlah tambahan, melainkan pondasi. Anak yang terbiasa bergerak sejak dini bukan hanya sehat, tetapi juga memiliki kepercayaan diri yang akan terbawa sepanjang hidup.

Sayangnya, kebanggaan orang tua sering kali berbanding terbalik dengan kebutuhan anak. Mereka lebih bangga jika anak bisa membaca di usia empat tahun, ketimbang meloncat lincah atau berlari gembira di halaman. Guru pun akhirnya terjebak pada tuntutan calistung, karena takut dianggap tidak “mengajar serius”. Akibatnya, ayunan di halaman sekolah tetap berdebu, dan literasi fisik tetap menjadi tamu tak diundang di ruang kelas.

Namun, bukan berarti harapan itu sirna. Justru di titik inilah kita punya kesempatan untuk berubah. Kurikulum Merdeka memberi ruang fleksibilitas agar guru bisa berkreasi. Literasi fisik bisa diintegrasikan melalui permainan tradisional seperti engklek, gobak sodor, atau bentengan. Aktivitas ini bukan sekadar hiburan, melainkan media deep learning (pembelajaran mendalam) di mana anak belajar mengenal tubuh, bekerja sama, hingga memahami nilai budaya. Bayangkan, satu permainan sederhana bisa menjadi jembatan antara kearifan lokal dan standar global.

Langkah konkret juga harus menyasar semua pihak. Guru PAUD perlu diberi pelatihan untuk merancang pembelajaran berbasis gerak. Orang tua perlu menyadari bahwa keberhasilan anak bukan hanya pada kemampuan membaca, tetapi juga pada kesehatan dan kepercayaan diri mereka. Mahasiswa PAUD sebagai calon guru harus dibekali pemahaman literasi fisik sejak bangku kuliah. Sementara mahasiswa olahraga dapat menjadi mitra strategis dalam mengembangkan program literasi fisik di lembaga PAUD. Jika kolaborasi lintas disiplin ini terwujud, inovasi pembelajaran aktif akan lahir dengan sendirinya.

Lebih jauh, literasi fisik sejak usia dini sebenarnya juga menyimpan dampak besar bagi dunia olahraga nasional. Jika anak-anak Indonesia tumbuh dengan fondasi motorik yang kuat, rasa percaya diri bergerak, serta kebiasaan hidup sehat, kita tidak perlu lagi terlalu bergantung pada kebijakan naturalisasi atlet asing. Pembinaan sejak PAUD akan memastikan talenta asli Indonesia bisa berkembang secara organik, karena bibit-bibit unggul itu lahir dari kebiasaan sederhana: bermain, berlari, melompat, dan bergerak aktif sejak dini. Dengan kata lain, literasi fisik bukan hanya urusan pendidikan dasar, tetapi juga investasi jangka panjang untuk kemandirian olahraga nasional.

Dan akhirnya, pemerintah perlu memperjelas posisi literasi fisik dalam standar kurikulum. Jangan hanya menilai kualitas PAUD dari administrasi atau kemampuan calistung anak. Ukur juga seberapa aktif, sehat, dan percaya dirinya anak-anak kita. Karena pada dasarnya, literasi fisik adalah kunci agar anak tidak hanya siap sekolah, tetapi juga siap hidup dan bahkan siap menjadi bagian dari kebanggaan bangsa di panggung olahraga dunia.

Sudah waktunya mengubah ukuran keberhasilan PAUD. Anak yang berlari riang, melompat penuh semangat, dan bergerak percaya diri sejatinya sama berharganya, “jika bukan lebih penting” dibanding anak yang duduk manis membaca huruf di usia dini. Literasi fisik bukan sekadar aktivitas jasmani, melainkan pondasi kehidupan. Jika kita berani menempatkannya setara dengan literasi akademik, maka kita sedang menanam benih generasi yang sehat, tangguh, berdaya saing, dan siap mengangkat nama Indonesia di masa depan.

Gambar: Active Movement Indonesia