Dari Potensi ke Lapangan, Pemuda Pringgodani Belajar Menggerakkan Olahraga Desa
Deskripsi blog
INFO TERKINI
Admin Active Movement Indonesia
8/3/20263 min read


MALANG, Pemuda Desa Pringgodani, Kabupaten Malang, tidak hanya belajar tentang olahraga. Mereka diajak mengenali potensi desanya, memetakan kebutuhan masyarakat, menyusun program, menghitung kebutuhan anggaran, hingga membawa rancangan kegiatan ke lapangan.
Proses tersebut menjadi bagian dari program pemberdayaan pemuda yang dilakukan Universitas Negeri Malang (UM) bersama tim PUI Center of Competence for Physical Activity (PUI CCPA) UM, dosen STIKes Kendedes, dan Active Movement Indonesia.
Berbeda dengan pelatihan yang berhenti pada penyampaian materi, kegiatan ini menggunakan metode blended dengan memadukan pembelajaran daring dan luring. Tahap daring digunakan untuk memberikan materi dan membangun pemahaman awal, sedangkan pertemuan luring digunakan untuk mengolah pengetahuan tersebut menjadi rancangan kegiatan yang sesuai dengan kondisi Desa Pringgodani.
Pada tahap luring, pemuda diajak melihat desa sebagai sumber belajar. Mereka memetakan potensi yang tersedia, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, serta melihat aktivitas yang sudah berjalan dan memiliki peluang untuk dikembangkan.
Hasil pemetaan kemudian menjadi dasar bagi peserta untuk merancang kegiatan. Mereka belajar menentukan sasaran, bentuk kegiatan, kebutuhan pelaksanaan, serta langkah-langkah yang diperlukan agar kegiatan dapat dijalankan.
Peserta juga belajar menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB). Dengan demikian, proses pelatihan tidak hanya mengajarkan bagaimana membuat sebuah kegiatan, tetapi juga bagaimana menghitung kebutuhan dan menyiapkan kegiatan agar dapat dilaksanakan secara realistis.
Dr. Taufik, S.Pd., M.Or., mengatakan pendekatan tersebut digunakan untuk menempatkan pemuda sebagai pelaku utama dalam proses pemberdayaan. “Pemuda perlu belajar membaca potensi yang ada di desanya, kemudian mengubah potensi tersebut menjadi program yang bisa dilaksanakan. Mereka tidak hanya belajar konsep, tetapi menyusun kegiatan dan anggarannya sampai kemudian diterapkan di lapangan.”
Menurut Taufik, kemampuan tersebut penting agar kegiatan di masyarakat tidak selalu bergantung pada program dari luar. “Ketika pemuda mampu merancang kegiatan sendiri, mereka memiliki pengalaman untuk mengembangkan program sesuai kebutuhan masyarakat. Pendamping kemudian berperan memperkuat proses tersebut, bukan menggantikan peran masyarakat,” ujarnya.
Dalam konteks olahraga, sepak bola dan bola voli menjadi bagian dari aktivitas yang dikembangkan bersama masyarakat Desa Pringgodani. Pengembangan kegiatan olahraga tersebut tidak hanya diarahkan pada kemampuan teknis, tetapi juga pada kemampuan pemuda dalam mengelola kegiatan.
Pemuda belajar bahwa kegiatan olahraga membutuhkan perencanaan, pengorganisasian, pendampingan peserta, serta evaluasi. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi pemuda sebagai penggerak kegiatan olahraga di lingkungannya.
Pendekatan olahraga juga dikembangkan dalam konteks yang lebih luas. Aktivitas fisik tidak hanya diarahkan kepada anak dan pemuda, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat usia lanjut tetap aktif bergerak sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
Dengan demikian, olahraga ditempatkan sebagai salah satu pintu masuk untuk membangun masyarakat yang aktif sekaligus memperkuat kapasitas pemuda dalam mengelola kegiatan di desa. Setelah proses pelatihan, kegiatan dilanjutkan dengan tindak lanjut di Desa Pringgodani. Rancangan yang telah disusun peserta dibawa ke lapangan melalui kegiatan olahraga dan pendampingan.
Tahap ini menjadi bagian penting dari metode pelatihan karena peserta memperoleh pengalaman langsung dalam menjalankan program. Mereka dapat melihat kesesuaian antara rencana dan kondisi lapangan, sekaligus menemukan kebutuhan atau kendala yang dapat digunakan sebagai bahan perbaikan kegiatan berikutnya.
Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi lintas lembaga dengan dukungan hibah dari Kementerian Sains dan Teknologi. Kegiatan ini melibatkan Universitas Negeri Malang (UM), PUI CCPA UM, dosen STIKes Kendedes, serta Active Movement Indonesia.
Kolaborasi tersebut mempertemukan perspektif pendidikan, olahraga, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Perguruan tinggi dan mitra tidak hanya hadir sebagai pemberi materi, tetapi bersama-sama mendampingi masyarakat dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan serta potensi lokal.Pendekatan ini sejalan dengan gagasan akademisi berdampak, ketika pengetahuan dan pengalaman akademik dibawa keluar dari ruang kelas untuk membantu masyarakat menyelesaikan persoalan dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, kegiatan tersebut memiliki keterkaitan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan aktivitas fisik dan olahraga berkaitan dengan SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, sementara proses pembelajaran dan peningkatan kapasitas pemuda berkaitan dengan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas.
Penguatan kemampuan masyarakat untuk mengenali potensi, merancang, dan menjalankan kegiatan secara mandiri juga mendukung SDG 11 tentang kota dan komunitas yang berkelanjutan. Sementara kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi masyarakat, tenaga akademik, dan masyarakat desa mencerminkan semangat SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.
Bagi tim pengabdian, proses tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan pemuda tidak cukup dilakukan melalui pemberian materi. Pemuda perlu memperoleh pengalaman lengkap mulai dari mengenali potensi, merancang program, menyusun anggaran, melaksanakan kegiatan, hingga mengevaluasi dan menindaklanjutinya.
Dari proses tersebut, pemuda Desa Pringgodani tidak hanya belajar mengelola kegiatan olahraga, tetapi juga mendapatkan pengalaman untuk menjadi bagian dari penggerak perubahan di desanya.
OUR ADDRESS
Perum Pondok Bestari Indah, Blk. B1 No.49B, Dusun Klandungan, Landungsari, Kec. Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65151
CONTACT US
WORKING HOURS
Monday - Friday
9:00 - 18:00
