ANAK-ANAK YANG AKAN MEMBAWA INDONESIA KE PIALA DUNIA

OPINI

6/14/2026

Ilustrasi: Active Movement Indonesia

Piala Dunia, Indonesia, dan Sebuah Pertanyaan yang Jarang Kita Jawab

Setiap empat tahun sekali, Indonesia mengalami fenomena yang unik.

Jutaan orang begadang hingga dini hari untuk menonton Piala Dunia. Warung kopi penuh. Grup WhatsApp keluarga berubah menjadi ruang diskusi taktik. Media sosial dipenuhi analisis pertandingan. Tetangga yang sehari-hari berjualan bakso mendadak menjelaskan konsep high pressing. Teman yang biasanya sulit membedakan offside dan tendangan sudut tiba-tiba menjadi analis sepak bola internasional.

Mungkin jika ada penghargaan untuk kategori negara penonton Piala Dunia paling antusias, Indonesia layak masuk final.

Namun di tengah euforia tersebut, ada satu pertanyaan yang jarang kita jawab secara serius:

Kapan Indonesia akan bermain di Piala Dunia?

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Sebab di baliknya tersimpan persoalan yang jauh lebih besar tentang bagaimana sebuah bangsa membangun masa depan.

Selama ini kita terlalu sering membicarakan siapa juara Piala Dunia. Kita memperdebatkan Messi atau Ronaldo, Mbappé atau Haaland, Argentina atau Prancis. Namun kita jarang bertanya kapan Indonesia akan berdiri di panggung yang sama.

Padahal sejak kemerdekaan, Indonesia belum pernah lolos ke putaran final Piala Dunia FIFA. Satu-satunya keikutsertaan wilayah yang kini menjadi Indonesia terjadi pada tahun 1938 ketika masih bernama Hindia Belanda. Artinya, selama lebih dari delapan dekade, kita lebih sering menjadi penonton daripada peserta (FIFA, 2023).

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mencintai sepak bola.

Pertanyaannya adalah apakah kita sungguh-sungguh merancang jalan menuju Piala Dunia.

Karena jika target itu tidak pernah ditetapkan secara serius, maka seluruh program pembinaan akan berjalan seperti orang naik bus tanpa mengetahui tujuan akhirnya.

Kita bergerak.

Kita bekerja.

Kita berlari.

Tetapi tidak ada yang benar-benar tahu ke mana arah perjalanan.

Padahal bangsa-bangsa yang berhasil mencapai prestasi besar hampir selalu memiliki satu kesamaan: mereka berani menetapkan tujuan jangka panjang, lalu membangun seluruh sumber daya yang dimiliki untuk bergerak menuju tujuan tersebut. Mereka tidak membiarkan masa depan terjadi begitu saja. Mereka merancangnya.

Dalam konteks Indonesia, pertanyaan tentang Piala Dunia sesungguhnya bukan sekadar pertanyaan olahraga. Pertanyaan itu adalah ujian terhadap kemampuan bangsa ini untuk berpikir lintas generasi, mengintegrasikan ilmu pengetahuan, dan menyelaraskan berbagai sektor pembangunan dalam satu tujuan bersama.

N.R. Fadhli
Penulis

Galih Purnomo Aji
Editor

Indonesia World Cup 2042 Research Roadmap

Jika Indonesia benar-benar ingin tampil di Piala Dunia 2042, maka yang dibutuhkan bukan sekadar program pembinaan atau kompetisi yang lebih banyak. Yang dibutuhkan adalah sebuah sistem nasional yang mampu menghubungkan pendidikan, penelitian, teknologi, kesehatan, pembinaan atlet, dan kebijakan publik dalam satu tujuan yang sama.

Selama ini berbagai penelitian sepak bola di Indonesia berkembang cukup pesat. Setiap tahun lahir ratusan skripsi, tesis, disertasi, artikel jurnal, dan inovasi teknologi olahraga. Namun sebagian besar masih berjalan secara parsial. Penelitian dilakukan untuk menjawab kebutuhan akademik masing-masing institusi, bukan sebagai bagian dari misi nasional yang terintegrasi.

Padahal negara-negara yang berhasil membangun prestasi olahraga dunia menunjukkan pola yang berbeda. Mereka tidak hanya membangun atlet, tetapi juga membangun sistem ilmu pengetahuan yang menopang atlet tersebut. Penelitian menjadi fondasi kebijakan. Data menjadi dasar pengambilan keputusan. Teknologi menjadi alat untuk mempercepat pengembangan talenta. Dengan kata lain, prestasi olahraga merupakan hasil dari ekosistem pengetahuan yang bekerja secara berkelanjutan (Mazzucato, 2021).

Karena itu, Indonesia memerlukan sebuah Indonesia World Cup 2042 Research Roadmap, yaitu peta jalan nasional yang menyelaraskan agenda riset dengan tahapan perkembangan calon pemain Piala Dunia Indonesia. Roadmap ini disusun berdasarkan prinsip backward planning, di mana tujuan akhir ditetapkan terlebih dahulu, kemudian seluruh tahapan penelitian, pembinaan, dan pengembangan sumber daya manusia dirancang untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut.

Melalui pendekatan ini, setiap fase perkembangan atlet memiliki fokus penelitian yang berbeda, namun saling terhubung dalam satu rantai pengembangan talenta. Anak usia dini menjadi fokus pembangunan fondasi gerak dan literasi fisik. Remaja menjadi fokus pengembangan keterampilan dan kecerdasan bermain. Atlet muda menjadi fokus optimalisasi performa dan teknologi olahraga. Sementara fase akhir diarahkan pada kesiapan kompetisi tingkat dunia.

Roadmap ini bukan sekadar dokumen perencanaan. Roadmap ini adalah upaya untuk memastikan bahwa setiap penelitian yang dilakukan hari ini memiliki kontribusi terhadap Indonesia yang ingin kita lihat pada tahun 2042.

Bangsa Besar Tidak Berpikir Empat Tahun, Mereka Berpikir Dua Puluh Tahun

Salah satu kelemahan yang sering ditemukan dalam pembangunan negara berkembang adalah dominannya orientasi jangka pendek.

Kita ingin hasil hari ini.

Kita ingin juara tahun ini.

Kita ingin melihat perubahan sebelum masa jabatan berakhir.

Padahal hampir semua pencapaian besar dunia dibangun melalui proses panjang yang melampaui satu generasi.

Universitas terbaik dunia tidak dibangun dalam satu periode.

Negara maju tidak lahir dari satu program.

Peraih medali Olimpiade tidak muncul dari satu kompetisi.

Begitu pula dengan Piala Dunia.

Dalam ilmu perencanaan strategis, pendekatan ini dikenal sebagai backward planning atau reverse engineering, yaitu menentukan tujuan akhir terlebih dahulu, kemudian menarik langkah-langkah yang harus dilakukan dari masa depan menuju masa kini (Bryson, 2018).

Jika Indonesia benar-benar ingin bermain di Piala Dunia, maka pertanyaan pertama yang harus dijawab bukanlah siapa pelatih tim nasional hari ini.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Kapan Indonesia ingin lolos ke Piala Dunia?

Mari kita ambil target yang realistis sekaligus menantang:

Piala Dunia 2042.

Mengapa 2042?

Karena target tersebut memberikan waktu sekitar enam belas tahun untuk membangun sistem secara bertahap dan berkelanjutan. Rentang waktu ini cukup panjang untuk membangun fondasi, tetapi cukup dekat untuk menciptakan rasa urgensi.

Lebih penting lagi, target tersebut selaras dengan semangat pembangunan jangka panjang nasional menuju Indonesia Emas 2045, yaitu visi besar Indonesia untuk menjadi negara maju yang ditopang oleh sumber daya manusia unggul, penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi, dan daya saing global (Bappenas, 2023).

Jika target sudah jelas, maka seluruh pemangku kepentingan memiliki arah yang sama.

PSSI memiliki arah.

BRIN memiliki arah.

Kemendiktisaintek memiliki arah.

Kemendikdasmen memiliki arah.

Perguruan tinggi memiliki arah.

Sekolah memiliki arah.

Peneliti memiliki arah.

Orang tua memiliki arah.

Dan yang paling penting, anak-anak Indonesia memiliki arah.

Karena sesungguhnya yang sedang kita bangun bukan hanya tim sepak bola.

Kita sedang membangun ekosistem yang mampu menghasilkan generasi unggul secara berkelanjutan.

Pemain Piala Dunia 2042 Saat Ini Sedang Duduk di Bangku Sekolah Dasar

Sekarang mari kita berpikir lebih jauh.

Rata-rata pemain yang mencapai performa puncak pada kompetisi sepak bola tingkat dunia berada pada rentang usia 24–30 tahun (Rees et al., 2016).

Jika Indonesia ingin tampil di Piala Dunia 2042, maka pemain inti tim nasional pada saat itu kemungkinan lahir antara tahun 2015 hingga 2018.

Artinya, mereka saat ini berusia sekitar 7–10 tahun.

Mereka sedang duduk di bangku sekolah dasar.

Mereka sedang mengikuti pelajaran pendidikan jasmani.

Mereka sedang bermain bola di halaman sekolah.

Mereka sedang berlari di lapangan desa.

Mereka mungkin belum pernah masuk sekolah sepak bola.

Mereka mungkin bahkan belum pernah membayangkan dirinya mengenakan lambang Garuda di dada.

Dan justru di sanalah masa depan sepak bola Indonesia berada.

Paradoksnya, ketika seluruh bangsa sibuk membicarakan tim nasional senior, pemain asing, kompetisi profesional, atau hasil pertandingan pekan lalu, kelompok yang paling menentukan masa depan sepak bola Indonesia justru hampir tidak masuk dalam percakapan nasional.

Padahal ilmu pengembangan atlet telah lama menjelaskan bahwa prestasi elite bukanlah hasil keajaiban.

Prestasi elite adalah hasil pembinaan jangka panjang yang sistematis.

Melalui model Long-Term Athlete Development (LTAD), Balyi dan Hamilton (2004) menjelaskan bahwa perkembangan atlet harus mengikuti tahapan biologis dan perkembangan anak secara bertahap. Atlet elite bukan produk seleksi instan, melainkan hasil investasi lingkungan, pendidikan, latihan, dan dukungan sistem selama bertahun-tahun.

Penelitian Lloyd et al. (2015) bahkan menunjukkan bahwa fondasi utama keberhasilan atlet masa depan bukanlah kemenangan kompetisi usia dini, melainkan penguasaan fundamental movement skills seperti berlari, melompat, mendarat, mengubah arah, menjaga keseimbangan, dan mengontrol tubuh.

Dengan kata lain, jika Indonesia ingin tampil di Piala Dunia 2042, maka pekerjaan terbesar kita tidak dimulai dari tim nasional senior.

Pekerjaan itu dimulai dari anak usia tujuh tahun hari ini.

Dan jika anak usia tujuh tahun hari ini adalah calon pemain Piala Dunia Indonesia 2042, maka pertanyaan berikutnya menjadi sangat penting:

Apakah penelitian, kebijakan, kurikulum pendidikan, sistem pembinaan, dan investasi olahraga nasional saat ini sudah benar-benar diarahkan untuk menyiapkan mereka?

Pertanyaan itulah yang melahirkan kebutuhan akan sebuah peta jalan nasional yang terintegrasi.

Sebuah roadmap yang tidak hanya berbicara tentang sepak bola, tetapi juga tentang riset, pendidikan, teknologi, kesehatan, dan pembangunan manusia.

Roadmap tersebut kami sebut sebagai:

Indonesia World Cup 2042 Research Roadmap

Kesalahan Besar Kita: Terlalu Cepat Mengejar Hasil

Jika ada satu kesalahan yang terus berulang dalam pembinaan sepak bola Indonesia, maka kesalahan itu bukan terletak pada kurangnya semangat, kurangnya kompetisi, atau bahkan kurangnya talenta.

Kesalahan terbesar kita adalah terlalu cepat mengejar hasil.

Kita hidup dalam budaya yang sangat menghargai kemenangan jangka pendek. Dalam banyak kasus, keberhasilan pembinaan sering diukur dari jumlah trofi yang diraih, bukan dari kualitas pemain yang dihasilkan. Akibatnya, banyak keputusan dibuat untuk memenangkan pertandingan hari ini, bukan untuk membangun pemain yang mampu bersaing dua puluh tahun kemudian.

Fenomena ini terlihat hampir di semua level.

Anak usia sembilan tahun dituntut menjadi juara.

Anak usia sepuluh tahun dipaksa bermain seperti pemain profesional.

Turnamen kelompok umur diperlakukan layaknya final Piala Dunia.

Pelatih dinilai dari jumlah kemenangan.

Orang tua bangga ketika anaknya menjadi juara, tetapi jarang bertanya apakah anaknya masih menikmati proses bermain.

Kita terlalu sibuk mengejar piala.

Padahal negara-negara maju justru sibuk membangun pemain.

Lalu bertahun-tahun kemudian, mereka yang mengangkat piala, sementara kita menghitungnya.

Ilmu pengembangan atlet sebenarnya telah lama mengingatkan bahaya pendekatan semacam ini. Menurut model Long-Term Athlete Development (LTAD), keberhasilan atlet elite merupakan hasil akumulasi pengalaman belajar, latihan, dan perkembangan yang berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun (Balyi & Hamilton, 2004). Pada usia dini, fokus utama seharusnya bukan kemenangan kompetisi, melainkan pengembangan fondasi gerak, kecintaan terhadap aktivitas fisik, kreativitas bermain, dan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Penelitian Côté, Baker, dan Abernethy (2007) menunjukkan bahwa pengalaman bermain yang kaya pada masa kanak-kanak memiliki kontribusi penting terhadap perkembangan atlet elite di masa depan. Sebaliknya, spesialisasi terlalu dini sering kali meningkatkan risiko kejenuhan, cedera, dan berhentinya anak dari olahraga.

Ironisnya, kita masih sering menganggap kemenangan usia dini sebagai indikator keberhasilan pembinaan.

Padahal sejarah olahraga dunia menunjukkan bahwa juara usia 10 tahun belum tentu menjadi atlet elite pada usia 25 tahun.

Sebaliknya, banyak atlet kelas dunia justru berkembang melalui proses yang panjang, sabar, dan bertahap.

Di sinilah kita perlu mengubah cara berpikir.

Tujuan pembinaan usia dini bukan menghasilkan juara hari ini.

Tujuan pembinaan usia dini adalah menghasilkan manusia dan atlet yang siap menjadi juara di masa depan.

Karena itu, jika Indonesia benar-benar ingin tampil di Piala Dunia 2042, maka ukuran keberhasilan pembinaan hari ini tidak boleh lagi sekadar jumlah trofi yang dipajang di lemari.

Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah berapa banyak anak yang masih aktif bermain, berkembang, dan terus bergerak menuju level yang lebih tinggi setiap tahunnya.

Dengan kata lain, kita perlu berhenti bertanya:
"Berapa banyak pertandingan yang dimenangkan?"

Dan mulai bertanya:
"Berapa banyak pemain masa depan yang sedang kita bangun?"

Kita Terlalu Banyak Meneliti, Tetapi Terlalu Sedikit Mengubah

Sebagai akademisi, saya percaya bahwa ilmu pengetahuan memiliki kekuatan untuk mengubah masa depan. Namun saya juga percaya bahwa ilmu pengetahuan hanya akan berdampak jika diarahkan menuju tujuan yang jelas.

Di sinilah kita perlu bersikap jujur terhadap diri sendiri.

Indonesia tidak kekurangan penelitian.

Setiap tahun, ratusan skripsi, tesis, disertasi, artikel jurnal, dan laporan penelitian dipublikasikan mengenai sepak bola dan olahraga.

Ada penelitian tentang VO₂max.

Ada penelitian tentang kelincahan.

Ada penelitian tentang passing.

Ada penelitian tentang shooting.

Ada penelitian tentang nutrisi.

Ada penelitian tentang psikologi olahraga.

Ada penelitian tentang kepemimpinan pelatih.

Semuanya penting.

Semuanya bermanfaat.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan:

Apakah seluruh penelitian tersebut sedang bergerak menuju tujuan nasional yang sama?

Bayangkan sebuah kapal besar yang diisi ribuan pendayung.

Semua mendayung dengan penuh semangat.

Semua mengeluarkan tenaga terbaiknya.

Tetapi tidak ada yang mengetahui ke mana kapal akan berlayar.

Maka yang terjadi bukan percepatan.

Yang terjadi adalah kebingungan.

Inilah tantangan terbesar riset olahraga Indonesia saat ini.

Kita memiliki banyak penelitian.

Kita memiliki banyak data.

Kita memiliki banyak publikasi.

Tetapi kita belum memiliki misi nasional yang mampu menyatukan semuanya.

Mariana Mazzucato (2021) menyebut pendekatan alternatif ini sebagai mission-oriented research, yaitu penelitian yang tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi diarahkan untuk menyelesaikan tantangan besar yang dihadapi sebuah bangsa.

Dalam pendekatan ini, pertanyaan pertama bukanlah:
"Apa yang ingin saya teliti?"

Tetapi:
"Masalah nasional apa yang harus kita selesaikan?"

Jika Indonesia menetapkan target tampil di Piala Dunia 2042, maka seluruh agenda penelitian olahraga nasional dapat bergerak menuju satu tujuan yang sama.

Penelitian tentang perkembangan motorik menjadi relevan karena membantu mengembangkan anak usia dini.

Penelitian tentang kecerdasan bermain menjadi relevan karena membantu meningkatkan pengambilan keputusan pemain muda.

Penelitian tentang nutrisi menjadi relevan karena mendukung pertumbuhan atlet.

Penelitian tentang kecerdasan buatan menjadi relevan karena membantu identifikasi bakat.

Penelitian tentang biomekanika menjadi relevan karena meningkatkan efisiensi gerak dan mengurangi risiko cedera.

Semua penelitian tetap penting.

Tetapi kini mereka bergerak menuju arah yang sama.

Inilah yang membedakan penelitian yang produktif dengan penelitian yang berdampak.

Publikasi penting.

Sitasi penting.

Indeksasi penting.

Namun bagi sebuah bangsa, dampak jauh lebih penting.

Karena pada akhirnya, tujuan penelitian bukan sekadar menghasilkan artikel.

Tujuan penelitian adalah membantu menciptakan masa depan yang lebih baik.

Dan jika Indonesia sungguh-sungguh ingin bermain di Piala Dunia 2042, maka setiap penelitian yang dilakukan hari ini seharusnya mampu menjawab satu pertanyaan sederhana:

Bagaimana penelitian ini membantu Indonesia selangkah lebih dekat menuju Piala Dunia 2042?

Pertanyaan itulah yang menjadi dasar penyusunan sebuah kerangka berpikir pembangunan jangka panjang yang disebut Backward Planning Framework.

Melalui kerangka ini, Indonesia tidak lagi memulai dari kondisi hari ini, melainkan dari tujuan akhir yang ingin dicapai. Dari Piala Dunia 2042, kita bergerak mundur untuk menentukan pemain yang harus disiapkan, sistem yang harus dibangun, penelitian yang harus dilakukan, serta kebijakan yang harus diambil mulai sekarang.

Dengan demikian, riset tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.

Riset menjadi kompas.

Riset menjadi pengarah.

Dan yang terpenting, riset menjadi penggerak perubahan menuju masa depan sepak bola Indonesia yang kita cita-citakan bersama.

Ilustrasi: Active Movement Indonesia

Gambar diatas menunjukkan bahwa dampak penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Penelitian yang dirancang dengan orientasi misi harus menghasilkan perubahan nyata pada sistem pembinaan, kualitas pelatih, kurikulum, teknologi, dan pengembangan talenta. Dengan demikian, jalur dampak penelitian bergerak secara berjenjang dari laboratorium menuju lapangan, dari data menuju kebijakan, dan dari inovasi menuju peningkatan peluang Indonesia untuk tampil di Piala Dunia 2042. Inilah esensi dari mission-oriented research: menjadikan ilmu pengetahuan sebagai penggerak transformasi nasional, bukan sekadar penghasil publikasi akademik (Mazzucato, 2021).

Ilustrasi: Active Movement Indonesia

Piala Dunia Tidak Dimenangkan oleh Sebelas Pemain

Ada satu kesalahan berpikir yang sering terjadi dalam sepak bola.

Kita menganggap kemenangan ditentukan oleh sebelas pemain yang berada di lapangan.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Ketika sebuah negara tampil di Piala Dunia, yang berdiri di lapangan memang hanya sebelas pemain. Namun di belakang mereka berdiri ribuan pelatih, guru, peneliti, dokter olahraga, ahli gizi, analis data, pengelola kompetisi, orang tua, kepala sekolah, akademisi, dan pembuat kebijakan yang selama puluhan tahun bekerja pada tujuan yang sama.

Piala Dunia modern bukan sekadar kompetisi olahraga. Ia merupakan produk dari sebuah ekosistem pembangunan manusia yang terintegrasi. Negara-negara yang berhasil secara konsisten menghasilkan pemain kelas dunia tidak hanya membangun akademi sepak bola, tetapi juga membangun lingkungan yang memungkinkan talenta berkembang secara optimal sejak usia dini (FIFA, 2023).

Karena itu, jika Indonesia ingin tampil di Piala Dunia 2042, maka fokus pembangunan tidak boleh hanya tertuju pada pemain. Yang harus dibangun adalah ekosistem yang mengelilingi pemain tersebut. Sebab pemain hebat tidak lahir sendirian. Mereka lahir dari sistem yang bekerja secara bersama-sama.

Gambar berikut menunjukkan bagaimana berbagai elemen bangsa saling terhubung dalam membentuk Generasi Piala Dunia Indonesia 2042.

Piala Dunia sebagai Proyek Peradaban Bangsa

Banyak orang menganggap Piala Dunia hanyalah sebuah kompetisi olahraga.

Dua puluh dua pemain mengejar bola selama sembilan puluh menit.

Satu tim menang.

Satu tim kalah.

Lalu semuanya selesai.

Namun jika kita melihat lebih dalam, Piala Dunia sesungguhnya tidak pernah hanya tentang sepak bola.

Piala Dunia adalah panggung tempat dunia melihat hasil dari proses pembangunan manusia yang dilakukan sebuah bangsa selama puluhan tahun.

Di balik setiap pemain yang berdiri di lapangan, terdapat sistem pendidikan yang membentuk karakter mereka.

Terdapat keluarga yang mendukung mereka.

Terdapat sekolah yang memberi ruang untuk bergerak dan berkembang.

Terdapat pelatih yang membimbing mereka sejak kecil.

Terdapat universitas yang menghasilkan ilmu pengetahuan.

Terdapat laboratorium yang mengembangkan teknologi olahraga.

Terdapat pemerintah yang menyediakan kebijakan dan infrastruktur.

Dengan kata lain, Piala Dunia bukanlah produk dari sebelas pemain.

Piala Dunia adalah produk dari sebuah ekosistem peradaban.

Karena itu, ketika Jepang tampil konsisten di Piala Dunia, yang sesungguhnya kita lihat bukan hanya kualitas sepak bola Jepang.

Kita sedang melihat kualitas sistem pendidikan Jepang.

Kualitas penelitian Jepang.

Kualitas tata kelola Jepang.

Kualitas budaya kerja Jepang.

Hal yang sama berlaku pada Jerman, Prancis, Belanda, Inggris, dan negara-negara maju lainnya.

Prestasi olahraga mereka merupakan refleksi dari kemampuan bangsa tersebut dalam membangun manusia secara berkelanjutan (Bailey et al., 2010).

Dalam konteks Indonesia, gagasan ini menjadi sangat relevan karena bangsa kita saat ini sedang bergerak menuju visi besar Indonesia Emas 2045.

Melalui dokumen Visi Indonesia 2045, pemerintah menempatkan pembangunan sumber daya manusia unggul, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, serta daya saing global sebagai fondasi utama pembangunan nasional (Bappenas, 2023).

Menariknya, seluruh elemen tersebut juga merupakan fondasi utama dalam membangun negara yang mampu bersaing di Piala Dunia.

Karena itu, target tampil di Piala Dunia 2042 seharusnya tidak dipandang sebagai target olahraga semata.

Target tersebut dapat menjadi misi nasional lintas sektor.

Sebuah national mission yang menyatukan pendidikan, penelitian, teknologi, kesehatan, pembangunan daerah, dan olahraga ke dalam satu arah pembangunan yang sama.

Mariana Mazzucato (2021) menyebut pendekatan seperti ini sebagai mission-oriented development, yaitu pembangunan yang berpusat pada pencapaian tujuan besar yang mampu menggerakkan berbagai sektor secara bersamaan.

Sebagaimana Amerika Serikat pernah menggunakan misi pendaratan manusia di Bulan untuk mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia dapat menggunakan target Piala Dunia 2042 sebagai instrumen untuk mempercepat pembangunan manusia dan sistem inovasi nasional.

Dalam perspektif ini, Piala Dunia bukan lagi tujuan akhir.

Piala Dunia menjadi indikator.

Indikator bahwa Indonesia berhasil membangun sistem yang mampu menemukan, mengembangkan, dan mengoptimalkan potensi generasi mudanya.

Jika Indonesia mampu membangun sistem yang cukup baik untuk menghasilkan pemain Piala Dunia, maka kemungkinan besar Indonesia juga sedang membangun sistem yang lebih baik untuk menghasilkan ilmuwan, inovator, pemimpin, dan warga negara yang unggul.

Karena itu, Piala Dunia bukan hanya tentang sepak bola.

Piala Dunia adalah tentang kualitas masa depan bangsa.

Ilustrasi: Active Movement Indonesia

Ilustrasi: Active Movement Indonesia

Penutup

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang ingin dijawab tulisan ini bukanlah siapa yang akan menjadi juara Piala Dunia berikutnya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Kapan Indonesia akan bermain di Piala Dunia?

Jika pertanyaan itu dijawab dengan serius, maka konsekuensinya juga harus serius.

Kita harus berani berpikir melampaui satu periode kepemimpinan.

Kita harus berani berpikir melampaui satu generasi pemain.

Kita harus berani membangun sistem yang bekerja selama puluhan tahun.

Karena sesungguhnya pemain Piala Dunia Indonesia tahun 2042 tidak sedang bermain di Liga 1 hari ini.

Mereka sedang duduk di bangku sekolah dasar.

Mereka sedang mengikuti pelajaran pendidikan jasmani.

Mereka sedang bermain bola di halaman rumah.

Mereka sedang berlari di lapangan desa.

Mereka sedang bermimpi.

Pertanyaannya bukan apakah mereka mampu.

Pertanyaannya adalah apakah kita cukup serius untuk menyiapkan jalannya.

Apakah para akademisi bersedia menyelaraskan risetnya untuk menjawab kebutuhan bangsa.

Apakah pemerintah berani membangun kebijakan yang melampaui siklus politik lima tahunan.

Apakah PSSI mampu menjaga konsistensi pembinaan lintas generasi.

Apakah sekolah dan keluarga mampu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Dan apakah kita semua bersedia berjalan menuju tujuan yang sama.

Karena pada akhirnya, Piala Dunia tidak dimenangkan oleh sebelas pemain.

Piala Dunia dimenangkan oleh jutaan orang yang bekerja bersama selama puluhan tahun.

Dua puluh tahun dari sekarang, ketika dunia mungkin menyaksikan Indonesia berdiri di panggung Piala Dunia, banyak orang akan mengira perjalanan itu dimulai dari kemenangan besar di stadion.

Padahal sesungguhnya perjalanan itu dimulai hari ini.

Di ruang kelas.

Di laboratorium penelitian.

Di lapangan sekolah.

Di rumah-rumah keluarga Indonesia.

Dan terutama pada anak usia tujuh tahun yang hari ini sedang bermain sepak bola tanpa pernah menyadari bahwa suatu hari nanti, masa depan sepak bola Indonesia mungkin berada di pundaknya.

Gambar 4 menunjukkan bahwa keberhasilan sepak bola tidak ditentukan oleh kualitas individu pemain semata, melainkan oleh kualitas ekosistem yang mengelilinginya. Keluarga, sekolah, pelatih, akademi, universitas, BRIN, pemerintah, dan PSSI memiliki peran yang saling melengkapi dalam proses pengembangan talenta. Semakin kuat keterhubungan antar elemen tersebut, semakin besar peluang lahirnya generasi pemain yang mampu bersaing di tingkat dunia. Dengan demikian, target Indonesia tampil di Piala Dunia 2042 harus dipahami sebagai misi kolektif seluruh bangsa, bukan semata-mata tanggung jawab federasi sepak bola atau tim nasional.

Gambar 5 menunjukkan bahwa target Indonesia tampil di Piala Dunia 2042 memiliki keterkaitan yang kuat dengan agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Pengembangan pemain sepak bola tidak dapat dipisahkan dari kualitas pendidikan, kesehatan, penelitian, teknologi, dan kebijakan publik. Oleh karena itu, investasi pada pembinaan sepak bola usia dini sesungguhnya merupakan bagian dari investasi yang lebih besar, yaitu investasi pada kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dalam perspektif ini, Piala Dunia menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam mengelola talenta, ilmu pengetahuan, dan pembangunan manusia secara terintegrasi.

OUR ADDRESS

Perum Pondok Bestari Indah, Blk. B1 No.49B, Dusun Klandungan, Landungsari, Kec. Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65151

WORKING HOURS

Monday - Friday
9:00 - 18:00